Posted by diana on Aug 18, '11 5:22 PM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Professional & Technical | | Author: | Ippho Santosa |
Nganan Lebih Baik Ketimbang Ngiri Nganan Lebih Baik Ketimbang Ngiri Oleh: Diana AV Sasa*) Kebetulan dalam bahasa Inggris, ‘kanan’ dan ’benar’ itu diterjemahkan jadi ‘right’. Mungkin ini isyarat, kanan itu memang benar. Kebetulan pula, ‘kiri’ dan ‘ketinggalan’ itu sama-sama diterjemahkan jadi ‘left’. Mungkin ini isyarat, kiri itu memang ketinggalan (56) Kutipan diatas hanyalah satu dari beberapa kebetulan yang dengan cemerlang dapat ditemukan Ippho Santosa mengenai ‘pledoi’ mengapa kanan lebih baik ketimbang kiri. Pledoi itu tertuang dalam buku motivasi bertajuk 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah, Nasib Berubah, dalam 99 Hari dengan Otak Kanan. Kebetulan lain yang ia temukan adalah rambu-rambu “Gunakan lajur kanan untuk mendahului”, dan “Gunakan lajur kiri untuk jalur lambat”. Mungkin ini pula isyarat bahwa untuk mendahului pesaing gunakan otak kanan, gunakan otak kiri kalau ingin ditinggalkan oleh pesaing. Dengan pledoi itu, Ippho sedang ingin mengetengahkan kehadapan pembaca bukunya, mengenai sebuah konsep berpikir dan bertindak dengan mengutamakan fungsi otak kanan. Ippho mengakui bahwa ia adalah satu dari sedikit motivator di Indonesia yang memilih untuk berpihak ke kanan (mengutamakan otak kanan). Bahkan ia berani mengatakan bahwa untuk hijrah ke sisi kanan dalam Cashflow Quadrant-nya Robert Kiyosaki, maka otak kanan harus diasah. Ippho berkeyakinan bahwa kesuksesan memerlukan peranan EQ(otak kanan) sekitar 80% dan IQ(otak kiri) 20%. Maka yang dibutuhkan adalah dominan kanan, bukan seimbang kanan kiri. Dalam konsep Ippho, keseimbangan dalam sebuah tim menuntut seorang pemimpin yang dominan kanan, karena ia akan lebih visioner, kreatif, intuitif, impulsif, berpikir holistik, empati ke semua pihak, dan memahami yang tersirat. Dibawahnya, manajer madya adalah mereka yang memiliki keseimbangan otak kanan-kiri, memahami detil, kalkulasi, fokus, dengan keseimbangan kreatifitas, intuisi, dan impati. Sedangkan yang perlu memahami dan menguasai detil dengan penuh adalah para bawahan. (54). Dengan konsep ini, Ippho ingin mengajukan hipotesa bahwa siapapun yang ingin menjadi pemimpin, ingin maju, sukses, dan meraih impiannya maka ia mesti mengoptimalkan kerja otak kanannya. Golongan Kanan melakukan sesuatu karena panggilan jiwa, bukan panggilan kerja. Sepenuh hati, bukan sepenuh gaji, begitu kata Ippho. Untuk menguraikan cara-cara berpikir otak kanan itu, Ippho memberikan 3 kunci. Kunci pertama adalah penguatan diri, ia menyebutnya Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri). Ini adalah sebuah langkah dimana seseorang merumuskan cita-cita, harapan, impiannya. Disini Ippho mencoba membangun keyakinan pembaca bahwa kesuksesan adalah milik siapa saja. Karena bagi Tuhan Yang Maha Kuasa, tak ada yang mustahil. Maka pegang kuat-kuat keyakinan akan impian itu. Mengucapkannya sering-sering, membayangkannya terus menerus, menancapkannya dalam pikiran, akan mendorong pada kesadaran batin dan pikiran untuk berusaha mewujudkannya. Setelah itu baru berupaya untuk membuat diri menjadi layak mendapat, meraih impian itu. Kerja keras, dedikasi, integritas, dan kesungguhan adalah kuncinya. Kunci kedua adalah membangun hubungan baik dengan sekitar, Ini bertolah pada hukum Law of Attraction (LOA), apa yang kau beri itulah yang kau dapat. Ippho menyebut orang tua di urutan teratas untuk menjadi bagian yang layak mendapat perlakuan baik. Ia menyebutnya sebagai Sepasang Bidadari (Lingkar Keluarga). Disini, Ippho ingin menegaskan bahwa orang tua adalah bagian dari kehidupan yang mesti dijaga keseimbangan hubungannya. Agama manapun pasti menyebutkan tentang urgensi orang tua sebagai sosok yang mesti dihormati, dihargai, dan dijagai karena dari merekalah bermula kehidupan seorang anak manusia. Tak perlu menunggu sukses, baru bisa menyenangkan orang tua, tak perlu menunggu kaya, baru memberi perhatian orang tua. Balikkan, kata Ippho. Berbuat baik dulu pada orang tua, kaya dan sukses mengikuti. Restu mereka adalah Doa. Ini berpikir cara kanan, kesuksesan dilihat dengan keajaiban. Sesuatu yang menjadi rahmat atas perbuatan dan sikap baik. Bukan semata sebuah perencanaan yang baik atas angka-angka. Kunci ketiga adalah hubungan baik dengan Tuhan. Simak cara Ippho menguraikan kedekatan dengan Tuhan sebagai sebuah titik tolak spiritual a la face book: Pertama, Tuhan mesti Anda add sebagai friend. Terus, banyak-banyaklah ganti status dengan Dia. Terus, banyak-banyaklah komunikasi wall to wall dengan Dia. Nah, begitu Anda sudah akrab, mudah-mudahan Anda akan sering mendapat notification dari Dia, sehingga intuisi Anda lebih peka terhadap sesuatu atau sesorang. Uraian diatas menarik dan mudah difahami. Karena memang demikian gaya bahasa yang digunakan Ippho; renyah, lugas, dan humoris. Lihat saja bagaimana ia menulis: Gimana sih caranya agar kita bisa akarab dengan Dia? Yah, cobalah bisnis modal dengkul dan bisnis modal jidat. Modal dengkul maksudnya sering-sering bersimpuh. Modal jidat maksudnya sering-sering bersujud. Pembaca akan sering dibuat tertawa karena gaya penulisan Ippho ini memang enak disimak, tidak seperti buku motivasi umumnya yang kaku dan menggurui. Gaya tutur ini membuat pembaca diajak berpikir, menganalisa, dan membuat keputusan sendiri. Ada keintiman interaksi antara penulis dengan sidang pembaca melalui cara penulisan komunikatis seperti ini. Interaksi dengan pembaca itu juga dibangun dengan berbagai pembenaran disertai bukti-bukti logis untuk mengajak pembaca menganggukkan kepala tanda setuju. Ippho membeberkan tentang apa perlunya bersedekah sekarang atau nanti, banyak atau sedikit. Ippho juga menguraikan apa perlunya menjadi seseorang atau sesuatu yang khas, beda, unik. Dan tentu saja, seruan ibadah itu tak terlewatkan. Manusia sukses adalah mereka yang dekat dengan Tuhannya melalui cara masing-masing. Ippho menawarkan beberapa cara sesuai yang diajarkan Islam. Ippho memang layak menyandang sebutan motivator, ia handal dalam berdagang. Konsep menjadi pedagang ini pula yang ia tawarkan sebagai sebuah solusi dari kejumputan berpikir atas masalah pendapatan penghasilan. Ippho menghadirkan kisah-kisah dan logika-logika sehingga berdagang menjadi pilihan yang mestinya tak terbantahkan. Secara implisit, ia menunjukkan bagaimana caranya berdagang, menjual lebih banyak, lebih mahal dan lebih cepat itu. Perhatikan bagaimana ia memberikan sebuah bab khusus dalam buku ini yang ia sebut Bonus Langsung 1.350.000. Bab dengan hanya 4 halaman itu sesungguhnya adalah semacam brosur pemasarannya. Di sana berisi tentang kandungan CD motivasi yang menyertai buku ini (200 ribu). Kalender,poster,sticker motivasi (100 ribu). Lagu motivasi (50 ribu), serta konsultasi pribadi senilai 1 juta. Bukan hanya itu, disini juga ada kode nada sambung pribadi yang bisa dipasang dalam ponsel. Selain itu, dalam setiap bab, saat memberikan tips, ia juga tak henti-henti menyeru agar pembaca yang merasa termotivasi dengan buku ini supaya meminjamkan atau membelikan buku ini kepada orang lain yang dianggap perlu. Sebuah strategi pemasaran yang sederhana tapi cukup nyata. Dalam tempo 3 bulan, buku ini cetak ulang 7 kali! Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan Gading Marten (ini kata Ippho), buku ini menyimpan pula cacat retak disana sini. Endorsement alias testimoni yang sampai 12 halaman di awal dan 10 halaman di akhir membuat semua terasa berbusa-busa. Barangkali ini menjadi khas buku motivasi. Tapi 22 halaman rasanya berlebihan. Kemudian gambar-gambar yang dihadirkan dalam buku ini terkesan dipaksakan. Terkadang korelasinya tidak jelas antara gambar dan topik bahasan. Ukurannya yang kecil dengan cetakan hitam putih membuat gambar semakin kehilangan makna. Buat apa ada gambar jika tak memberi manfaat bagi pembaca, setidaknya memanjakan mata atau memperjelas teks. Selain itu, margin kanan dan kiri yang tidak berimbang menyempitkan kesempatan pembaca untuk membuat coretan ditepian buku. Sebagai sebuah buku motivasi, hendaknya pembaca diberi ruang gerak untuk menuangkan pengalamannya dalam coretan catatan kesan pembacaannya. Terakhir, daftar isi yang tidak memuat sub bab, menjadikan pembaca yang ingin membaca ulang mesti membolak-balik halaman mencari bab apa di bagian mana. Selebihnya, buku ini cocok bagi siapa saja yang butuh motivasi dan arahan tentang bagaimana meraih impian, cita-cita, dan keluar dari masalah-masalah yang selama ini dirasa membuat kehidupan jalan ditempat. Rubah cara berpikir, perbaiki kualitas anda hingga layak mendapat impian itu, perbaiki hubungan sesama, dan dekatkan diri pada Tuhan. Memberilah sebanyak-banyaknya karena kau akan mendapat yang setara dengannya. Rayakan hidup, dan bernyanyilah seperti arek Suroboyo, “Right…ayo Right…, mlaku mlaku nang Tunjungan…” Judul : 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah, Nasib Berubah, dalam 99 Hari dengan Otak Kanan Penulis : Ippho Santosa Penerbit : PT Elex Media Komputindo Tahun Terbit : 2010 ISBN : 978-979-27-6923-4 *) Seorang pecinta buku yang memasang sidik jari kemenangan: Di usia 32 tahunku, aku ingin jadi penulis yang diakui kompetensinya, dan bisa hidup dari menulis. Karena penulis adalah profesi, right? Salam Kanan...!! **) Resensi ini diikutkan pada lomba resensi di situs ini http://www.rightbrainaward.com/index.php?option=com_resensi&task=view&id=305teman-teman bisa membantu saya mewujudkan impian dengan menyetor jempol ke halaman rightbrainaward, terimakasih, semoga jempol anda yang disetor tulus berbuah kebaikan setara :-)  Posted by diana on May 23, '10 10:43 PM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Okky Madasari |
Bocah itu bernama Marni. Ia anak seorang perempuan pengupas ketela di pasar Singget. Bapaknya pergi setelah memukul ibunya yang sedang sakit panas.
Marni sedang tumbuh menjadi remaja. Tubuhnya mulai mekar. Ia rasakan dadanya menonjol. Jika berlari, dadanya akan terguncang-guncang dan membuatnya tak nyaman. Tapi ia melihat sepupunya Tinah tetap bebas berlari meski dadanya juga mekar. Dari Tinah, Marni mengenal sebuah benda yang dapat menyangga dada agar singset, namanya: entrok.
Marni kecilpun ingin memiliki entrok. Ketika meminta pada ibunya, ia harus menelan kecewa. Entrok itu mahal. Meminta pada ayah Tinah, ia justru dihina caci. Maka Marni pun bertekad untuk membeli entrok sendiri. Untuk itu ia harus bekerja, membantu mengupas singkong bersama ibunya di pasar.
Ternyata pengupas singkong tak pernah diberi upah uang, hanya bahan makanan. Marni pun melirik profesi kuli angkut yang dilakukan para lelaki di pasar itu. Marni merasa mampu melakukan pekerjaan itu. Setiap hari punggungnya terlatih mengangkut beban hasil upah ibunya dengan jarak yang cukup jauh. Maka ia pun nekad menerjang tabu, perempuan tak ada yang menjadi kuli angkut, itu tak pantas. Tapi Marni kukuh. Ia ingin membeli entrok.
Sebagai satu-satunya kuli angkut perempuan, Marni banyak mendapat langganan. Hingga akhirnya sebuah entrok pun terbeli. Tapi Marni terlanjur menikmati hasil upahnya sebagai kuli angkut. Meski sudah bisa membeli sebuah entrok, Marni ingin membeli entrok yang lebih bagus, lebih banyak, lebih beragam. Marni terus mengumpulkan uang dengan mengangkut barang. Tapi ia punya rencana lain.
Ketika Marni merasa uangnya cukup, ia menyimpan tekad untuk berdagang sayur. Tapi ia tak akan berdagang di pasar, terlalu banyak saingan. Ia berdagang keliling dari rumah ke rumah. Dari semula hanya memiliki pelanggan sepanjang jalan pasar Singget hingga kampungnya, Marni makin dikenal dan menjadi langganan para istri petinggi kampung. Wilayah dagangnya pun meluas. Marni kemudian mulai memberikan pinjaman uang dengan bunga 10%. Cap rentenir pun melekat padanya. Namun Marni tak merasa apa yang dilakukannya adalah suatu yang salah. Ia tidak merampok, menipu, atau membunuh. Ia hanya menolong.
Marni lalu menikah dengan Teja, lelaki yang jadi kuli angkut turun temurun dari ayahnya. Teja adalah sosok laki-laki yang hanya punya otot. Ia hanya mengantar Marni berdagang, mengangkut barangnya, dan bersantai di rumah. Selebihnya, urusan perdagangan dibawah kendali penuh Marni. Teja bahkan tidak bisa membela istrinya ketika aparat pemerintah mulai dari polisi sampai lurah memoroti harta mereka.
Ketika usaha Marni makin berkembang, ia juga mulai naik kelas dengan membuat dinding bata untuk rumahnya. Sementara Teja mulai menghambur uang dengan mabuk dan meniduri perempuan penghibur. Marni memilih untuk tutup mata atas kelakukan Teja. Ia tak ingin bercerai. Jika bercerai, harta yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit itu akan menjadi gono gini yang harus dibagi. Marni tak akan pernah rela. Hartanya ia kumpulkan sekeping demi sekeping dengan keringatnya sendiri. Teja tak banyak berperan.
Sementara itu, Rahayu, anak semata wayang Marni tumbuh sebagai anak jaman yang mengenal sekolahan. Disekolahnya itu, Rahayu mengenal tentang agama Tuhan. Guru agamanya mengatakan bahwa apa yang dilakukan ibunya adalah dosa. Ibunya menyembah leluhur, Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa, melakukan selamatan, dan dimata Rahayu itu musyrik, itu kafir. Ibunya meminjamkan uang dengan bunga, kata guru agamanya, itu riba, dosa. Rahayu pun mengalami pertentangan nilai yang membuatnya merasa tersisih karena menjadi bahan gunjingan di sekolahnya. Ia mulai membenci ibunya.
Tapi bagi Marni apa yang dilakukannya bukan lah sebuah dosa. Ia berdoa memohon dan berterimakasih pada Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa dengan bersemadi di bawah pohon asam kala malam seperti yang diajarkan ibunya sedari ia kecil. Ia mengucap syukur dengan membuat selamatan. Terbukti hamper semua keinginannya terkabul.
Marni meminjamkan uang karena ingin membantu orang lain. Untuk melakukan itu ia berusaha dengan keringatnya sendiri, tidak merampok, tidak menipu, tidak membunuh. Marni tak peduli lagi dengan pandangan dan gunjingan orang tentang pekerjaannya. Ia meneguhkan ketegaran hati, menebalkan telinga dari gunjingan, memantapkan keyakinan, terus berdisiplin dan tekun sebagaimana orang melakukan pekerjaan lain. Karena ironis, guru agama Rahayu yang menyebutnya kafir dan pendosa itu juga salah satu peminjam uangnya.
Gunjingan orang tak menghalangi Marni untuk terus berkembang. Ia berkenalan dengan Koh Cayadi, seorang Tionghoa pemilik toko elektronik di Madiun. Marni diajak Cayadi untuk melakukan ritual di gunung Kawi, berikhtiar mencari mukjizat untuk bisa mengembangkan usaha. Tapi ternyata akibatnya buruk, ia justru disebut-sebut mencari pesugihan. Kematian buruh-buruhnya dan suaminya pun dikait-kaitkan dengan tumbal pesugihan. Orang mulai menjauhi dirinya dengan terang-terangan.
Di sisi lain Marni terus menerus dihadapkan pada realitas kekuasaan yang mencucup keringatnya dengan dalih ‘uang jasa keamanan’. Polisi, tentara dan aparat kelurahan tak hentinya menarik pungutan ini itu. Marni yang usahanya makin mendapat saingan bank kredit itupun tak kuasa selain menuruti permintaan mereka yang mencekik leher.
Jaman terus berubah. Kebijakan politik pemerintah makin cenderung berpihak pada militer. Kekuasaan tentara makin merajalela dan sewenang-wenang menindas. Marni menjadi salah satu korbannya. Ia wajib menyetor upeti saban bulan. Ia tak mau usahanya diganggu apalagi bila sampai dilabeli PKI, ia takut masuk penjara. Saat itu, cap sebagai orang PKI adalah sebuah mimpi buruk bagi setiap orang. Itu artinya menjadi musuh pemerintah. Marni tak mau aneh-aneh. Ia buta politik. Saat pemilu, ia mencoblos gambar beringin seperti yang disarankan Pak Lurah agar usahanya tetap aman.
Tapi tidak bagi Rahayu, anak marni. Rahayu bukan hanya memiliki cara pandang yang berbeda dengan ibunya, tapi dia juga memilih untuk berpisah jarak tanpa sapa. Ia yang mengenyam pendidikan tinggi di Jogja itu memilih jalan pergerakan sebagai perlawanan pada tirani kekuasaan. Ia aktif berorganisasi dan melakukan pendampingan masyarakat yang tertindas oleh ulah penguasa. Salah satunya adalah korban pembangunan sebuah waduk.
Di organisasi pergerakan inilah Rahayu menemukan tambatan jiwanya. Lelaki yang sudah memiliki istri itu dipilih Rahayu sebagai suaminya. Tapi kebersamaan mereka tak berlangsung lama. Amri, suami Rahayu, tewas di ujung bedil tentara ketika mereka membela sekelompok penduduk yang desanya akan digusur menjadi bendungan air.
Kehilangan Amri membuat Rahayu kehilangan separuh keyakinan diri. Ditengah pendampingan warga desa yang tanahnya terancam digusur, ia bercinta zina dengan Kyai Hasbi, ulama yang menampung ia dan Amri. Kemudian ia ditawari menjadi istri ke empat. Kyai Hasbi memilih meninggalkan desa karena memikirkan keselamatan pesantrennya. Rahayu bertahan. Ia berjuang sendiri.
Hingga malam penggusuran itu pun tiba. Rahayu yang semula mengajak anak-anak mengaji, tak kuasa untuk mengikuti ritual orang-orang desa yang mengucap mantra, membuat sesaji, dan berjoget seiring bunyi gamelan. Tubuh Rayahu bergerak menari mengikuti alunan gamelan, orang-orang rubuh, Rahayu tak ingat apa-apa selain ibunya.
Rahayu meringkuk dalam penjara karena membela orang-orang desa itu. Marni datang sebagai malaikat penyelamat. Mengupayakan segala daya dan mencurahkan kasih sayang untuk kebebasan anak kesayangannya. Ketika hari pembebasan tiba, Rahayu tak berkeberatan Marni menggelar selamatan. Hatinya telah mampu bertoleransi atas pilihan keyakinan ibunya, yang juga dianut banyak penduduk lain.
Dua perempuan janda itu kembali rukun sebagai ibu-anak. Hingga muncul keinginan Marni untuk menikahkan Rahayu. Ia belum pernah mantu. Dan Rahayu anak satu-satunya. Marni ingin merasakan bahagianya mantu. Maka ia carikan jodoh untuk Rahayu. Sutomo anak Pak Kirun tukang andong terpilih.
Persiapan pesta besar dilakukan di rumah Marni. Kurang dua hari dari pesta pernikahan Rahayu-Sutomo, prahara datang. Pak Kirun membatalkan perkawinan anaknya. Kartu Tanda Penduduk milik Rahayu bertanda ET (Eks Tapol), itu berarti PKI. Dan siapapun akan menjauh dari embel-embel PKI bila ingin tetap hidup tenang di negri ini. Kirun menuduh Marni menipu dan hendak menjadikan anaknya sebagai tumbal pesugihan.
Marni tak mampu lagi mencerna dalam pikirannya. Ia hanya ingin anaknya menikah. Ia tak tahu menahu dengan KTP bertanda ET. Ia hanya ingin menimang cucu.
Novel ini dituturkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Cara bertuturnya yang melompat-lompat akan sedikit menyusahkan logika pembaca. Cakupan tema besar seputar politik, gender, de-islamisasi, toleransi dan pluralisme membuat novel ini sangat kaya akan kritik. Penulis mampu menyederhanakan masalah-masalah besar dan cenderung berat menjadi tuturan sehari-hari yang ringan. Novel ini enak untuk pengantar tidur juga layak menjadi bahan diskusi.
Penulis :Okky Madasari Penerbit : Gramedia Dimensi: 13.5 x 20 cm Tebal: 288 halaman Cover: Soft Cover ISBN: 978-979-22-5589-8
 Posted by diana on Feb 20, '10 12:38 PM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Nusya Kuswantin |
Lasmi, perempuan desa itu membaca Di Bawah Bendera Revolusi-nya Bung Karno, Habis Gelap Terbitlah Terang-nya Kartini, juga novel-novel Pujangga Baru. Ia terpesona gagasan Bung Hatta tentang koperasi dan menyukai gagasan Bung Karno tentang negeri ini. Sutikno terpesona Lasmi pada aktivitasnya, pikirannya yang progresif, dan caranya berargumentasi. Mereka kemudian menjalani kehidupan sebagai dua orang berpikiran terbuka, progresif, maju dan membangun rumah tangga ideal a la aktivis pergerakan masa itu.
Lasmi adalah seorang pecinta buku. Ia merintis Kerukunan Belajar Bersama hingga memiliki semacam perpustakaan yang antara lain diisi dengan buku-buku hasil karya warga desa sendiri. Yang ditulis dengan tangan dan berisi tentang apapun. Mulai dari seluk beluk bercocok tanam, hingga dongeng pengantar tidur. Untuk anak-anak, ia dirikan TK Tunas. Disana ia mengajar dengan semangat perubahan paradigma warga desa sedari usia dini.
Sayang, novel ini miskin dialog. Sosok Lasmi tak tergambar melalui percakapan maliankan tuturan Sutikno. Akhirnya, pembaca seakan digiring untuk melihat dan berpendapat seperti kacamata Sutikno. Lasmi menurut Sutikno, bukan Lasmi menurut bacaan pembaca. Hingga di akhir novel pun, konflik batin Lasmi hanya tergambar dalam surat yang ditulisnya untuk Sutikno.
Sekira tahun 1963, ketika Presdien Soekarno sedang getol menyerukan permusuhan dengan Negara tetangga, Malaysia, Lasmi mengambil keputusan penting: Menggabungkan Taman Kanak-kanaknya ke dalam Yayasan Melati dan sebagai konsekuensinya, Lasmi resmi mejadi anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).
Di depan Taman Kanak-kanaknya kini ada tiga papan nama berjajar: TK Melati, Gerwani, dan Barisan Tani Indonesia (BTI). Aktivitas Lasmi pun berkembang. Ia tak hanya mengajar anak-anak, tapi mulai menggalang petani dan warga kampung untuk bergabung dalam BTI dan Gerwani. Ia membuat terobosan-terobosan pemikiran diantara masalah-masalah warga. Ia membuka ruang-ruang dialog antar warga. Ia mengikuti pelatihan dan pengkaderan. Hingga ia memiliki 5 anggota andalan yang suka membaca, bisa menulis, mampu menyusun surat, mengetik, berani bicara, dan tak segan menjadi ujung tombak; Sarip, Darsiyem, Jum, Bakir, dan Kamidi.
Lasmi berhasil. Warga tersadar akan pentingnya organisasi buruh tani dan petani penggarap. Mereka ingin memperoleh bagi hasil secara dil dengan pemilik tanah. Dengan payung BTI, warga bertekad melakukan demonstrasi melawan kekuasaan 7 setan desa: tuan tanah penghisap, tengkulak jahat, tukang ijon, lintah darat, kapitalis birokrat alias kabir, bandit desa, dan penguasa jahat.
Dan hari pertama Oktober 1965 pun tiba. Tersiar berita di radio bahwa Pasukan cakrabirawa menangkap sejumlah jenderal. Keesokan harinya tersiar lagi kabar bahwa gerakan penculikan jenderal-jenderal adalah upaya kodeta yang dipelopori oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Berita itu mneyebutkan bahwa pembunuhan terhadap para jenderal dilakukan di daerah Lubang Buaya oleh Pemuda Rakyat dan Gerwani.
Situasi politik nasional mencekam. Lasmi sebagai ketua Gerwani di desanya, menanggung resiko penangkapan. Ia pun memutuskan bersembunyi sementara dari kejaran. Bersama suaminya, Sutikno dan anaknya, Gong, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam persembunyiannya itu, ia mendengar berita pembunuhan, pembantaian, dan kekejian terjadi. Saudara-saudara seorganisasinya menjadi target pemberangusan yang sadis. Kondisi ekonomi makin memburuk. Pangan semakin sulit di dapat. Pelariannya bukan hanya penuh ketakutan, tapi juga derita. Puncaknya, ketika Gong tak lagi mampu melawan sakit dan menghela nafas terakhir di 13 Desember 1965. Sayang, bagian pelarian ini tak diceritakan dengan narasi yang mampu menyedot pembaca pada situasi mencekam dan mendebarkan. Datar saja. Penulis tak banyak mengeksplorasi data seputar peristiwa paska september 1965. Ia hanya menuturkan narasi yang kaku dan dangkal. Tiba-tiba saja muncul berlembar-lembar transkrip pidato Bung Karno yang memecah alur novel.
Lasmi pun guncang. Ia merutuki kecelakaan jaman. Lirih ia berbisik pada Sutikno “Sut, maafkan aku ya? Kalau aku tidak masuk Gerwani, tentulah kita tak perlu mengalami ini semua ini”. Dan ia pun mengambil keputusan untuk menyerahkan diri pada aparat. Dalam suratnya ia menulis “ Sut, meninggalnya Gong telah membuatku menyesali segala aktivitasku sebagai Ketua Gerwani desa kita yang menyebabkan aku jadi buronan dan jadi musuh sebagian masyarakat. Bila sejak awal aku memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, mungkin anak kita masih bisa diselamatkan…”
Aktivis Gerwani adalah kader-kader terpilih. Mereka yang tertangkap, tersiksa, dan terbuang nyaris disepanjang sisa hidupnya pun, tak pernah terdengar menyesali diri telah menjadi bagian dari Gerwani. Mereka adalah kader ideologis yang militan. Simak fakta dari tiga orang periset Gerwani. Saskia E Wieringa (Penghancuran Gerakan Perempuan, Kuntilanak Wangi), Fransisca Ria Susanti (Kembang-kembang Genjer), dan Hikmah Diniah (Gerwani Bukan PKI). Dari ketiganya tak ada kesimpulan bahwa gelombang besar aktivis utama Gerwani menyesal telah bergabung.
Sejarah peristiwa tragis 1965 dalam novel ini memang hanya dijadikan tempelan, sehingga nyaris tak memberikan hal baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik-pernik permasalahan dan setting cerita. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi adalah semata korban.
Lasmi yang progresif, revolusioner, berpikiran maju, penggerak dan agitator ulung itu rubuh sudah di juntai stagennya. Bukan hanya tubuhnya yang rubuh, tapi idealisme dan militansinya sebagai kader Gerwani ! (Diana AV Sasa)  Posted by diana on Nov 27, '09 5:07 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | Nano Warsono |
Sign Fiction: The Art of Nano Warsono, begitu ia memberi tajuk monografnya. Nano Warsono, perupa asal "Kota Ukir, Jepara" yang sekarang menetap di Yogyakarta ini, bukan sekedar membuat sebuah album karya atau kronik rekam jejaknya berkesenian, tapi ia tengah memindahkan galeri dimana karya-karyanya pernah dipajang, ke dalam media yang lebih kecil: buku.
Melalui buku, Nano membawa pembacanya untuk berlama-lama menikmati dan menyelami setiap karyanya. Buku itu bisa dibaca berkali-kali tanpa terbatas waktu seperti bila pameran di galeri. Begitu buku dibuka, karya itu tergelar dan siap dinikmati dengan atmosfer yang berbeda-beda.
Dengan buku, Nano memberi kesempatan lebih banyak orang untuk ‘membaca’ karya senirupanya. Itu berarti juga membuka peluang lebih besar agar pesan-pesan dalam karya Nano turut pula menyebar meluas. Dan seperti umumnya karya seni, pesan-pesan itu tidak tersurat namun tersembunyi dibalik tanda-tanda yang tak nyata, fiksi.
Tanda-tanda fiksi itu disajikan Nano dalam serangkaian bab yang disebut Hendro Wiyanto dalam pengantarnya sebagai “panel-tunggal-fiksi-sejarah bergambar”. Maka Nano pun mengajak pembacanya untuk mencari tanda itu dengan mengamati perjalanannya di jagad senirupa melalui karya Drawing & Comic (gambar dan komik), Painting (Lukis), Mural, dan Sculpture (patung).
Meski ia menggunakan aneka media garapan untuk gambar, mural, patung, instalasi, sampai lukis, namun ada satu kesatuan yang utuh dalam karyanya. Dan itu hanya bisa dinikmati bila dibaca runtut. Tentu sangat memungkinkan bila karya ini ingin dinikmati secara acak. Seperti halnya karya yang dipajang di dinding galeri, ia bisa dinikmati dari mana saja, tidak mesti dimulai disatu titik dan diakhiri di titik tertentu pula.
Dalam bab Drawing&Comic yang menghabiskan 2/3 bagian dari seluruh halaman Sign Fiction, terlihat sekali tema-tema yang diangkat Nano melalui karyanya adalah semacam kegelisahan dan pemberontakan akan realitas yang ditemuinya semasa tahun 90an hingga awal 2000an. Masa dimana ia masih seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia di Jogja, juga masa dimana Indonesia sedang mengalami transisi kepemimpinan nasional dan carut perekonomian. Masa ini terkesan suram dan berat dalam karya Nano. Ada kegelisahan dan pemberontakan yang demikian berat tersirat melalui garis hitam, karakter seram, dan kutipan-kutipan bernada satirnya.
Beragam sekali aspek yang ditampilkan Nano di bab ini. Nano seperti ingin menunjukkan bahwa masa pencarian yang ia lakoni bersama gambar dan komiknya adalah masa yang bukan saja rumit tapi juga berat. Ada paradoks antara apa yang ia baca dan ia lihat. Ada ketimpangan antara barat dan timur. Nano melihat efek sosial setelah budaya barat dan globalisasi merajai segala sendi kehidupan.
Nano membaca bagaimana ketika manusia semakin takhluk pada tehnologi, ketika informasi dikuasai tehnologi, ketika mesin mengalahkan manusia bahkan mendorong manusia menjadi mesin yang kehilangan naluri kemanusiaannya, Nano membaca itu sebagai realitas yang perlu dipertanyakan ulang maknanya.
Nano juga mempertanyakan kembali makna pahlawan ditengah serbuan tehnologi canggih. Maka kemudian muncul tokoh-tokoh superhero macam Batman yang menjadi Badman. Atau Osama bin Laden yang berada diatas seluruh superhero macam Superman, Spiderman, Heman, dan sebagainya. Ada pula superhero yang mejadi jahat dan penjahat yang digambarkan menjadi karakter baik.
Bab Drawing & Comic ini juga memperlihatkan bagaimana seorang Nano berproses dengan setiap pengalaman dan realitas dalam diri maupun diluar dirinya. Dengan menonjolkan obyek utama berupa botol, tubuh, dan pohon, Nano mengurai kegelisahan personalnya terkait teman, keluarga, kekasih, dan jati dirinya. Berbagai macam wacana yang ditemuinya bercampur dalam otaknya dan keluar mencari pemaknaan baru.
Kegelisahan akan wacana yang berkembang ini juga nampak dalam beberapa karya yang menonjolkan obyek-obyek seperti buku, simbol-simbol agama, nama-nama filsuf, ikon tehnologi, dan pola-pola gambar dengan karakter mind-mapping (peta pikiran). Juga terlihat pada petikan kalimat yang ia tulis dalam gambarnya, seperti “Dan memberontak adalah salah satu cara bertahan hidup yang tepat melawan kemapanan”, atau “Aku butuh sesuatu yang baru, bukan dogma-dogma yang kuno”.
Setelah menikmati gejolak kegelisahan dan perlawanan dengan nuansa hitam putih yang agak suram, pembaca akan diajak menilik karya Nano dalam wujud lukisan. Dalam karya ini, Nano terlihat seperti menemukan kecerahan dan keceriaan. Warna-warna mencolok dan berani membuat karakter lukisannya yang cenderung komikal semakin berkesan kuat dan keras. Disini Nano mulai menyatukan karyanya dalam satu tarikan tokoh komik yang ia pinjam untuk menyampaikan pesan pemberontakannya akan realitas masyarakat urban di sekitarnya.
7 halaman bab mengenai karya mural Nano, memberi pembaca sedikit gambaran kedalaman dan keluasan wacana dan wawasan seorang Nano, yang ketika itu diungkapkan pada media bebas semacam tembok, ternyata menghasilkan karya yang bukan hanya memiliki estetika tinggi namun juga pesan yang jelas. Karya mural Nano terjejak di Jepara, Jogja, dan Sanfransisco.
Meski tak terlampau banyak, Nano juga membuat patung. Karya patung yang dibuatnya sekira tahun 2001 masih menampakkan ornamen yang menunjukkan detil. Ini tak lepas dari latar belakang Nano yang dari Jepara dan dekat dengan tradisi ukir kayu. Setelah tahun 2006, patung yang dihasilkannya sudah mengikuti alur lukisannya: komikal dan berwarna mencolok. Dalam setiap karyanya, Nano seperti mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, merenung dan menemukan tanda-tanda pesan yang ingin ia sampaikan.
Persembahan karya visual itu diakhiri dengan sebuah diskusi mengenai Nano dan karya-karyanya. Transkrip wawancara yang dilakukan Rain Rosidi (seorang kurator senirupa) ini memberi gambaran bagaimana Nano memandang suatu karya senirupa. Juga dapat diketahui dasar filosofi Nano dalam berkesenian. Pilihan Nano untuk masuk dunia senirupa professional, dan perkembangan/perubahan karya-karyanya tercakup pula disini. Ditambah sedikit profil dirinya, kita akan memahami mengapa dan bagaimana karya-karya Nano bernuansa komik dan cenderung detil.
Sedikit kekurangan pada Sign Fiction adalah penggunaan bahasa Inggris pada judul Bab dan bagian Profile yang tidak diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Memang tidak mengganggu, hanya tidak konsisten. Penggunaan bilingual (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) semakin memungkinkan Sign Fiction untuk diterima masyarakat senirupa secara lebih luas. Buku ini tepat bagi mereka yang menekuni seni rupa dan membutuhkan tambahan referensi visual. Namun juga bisa dijadikan alternatif lain para penggemar fiksi.
Seperti lazimnya sebuah buku, Sign Fiction juga menyertakan pengantar. Kali ini pengantar itu dituliskan FX Widyatmoko Koskow (seorang cover designer, dosen ISI, dan juga editor visual Sign Fiction) yang mengambil judul Wonderline, Garis Negosiatif, Hendro Wiyanto (Kurator) dengan Post-Colonial Pop, dan Arahmaiani dengan Dunia Komik Dalam Karya Nano Warsono.
Pengantar ini memang membantu pembaca untuk mendapat gambaran kesatuan pesan dalam karya Nano, namun sebagaimana karya seni/sastra maka akan lebih nikmat bila karya itu dinikmati tanpa derecoki pendapat dari penikmat yang lebih dulu membacanya. Mengabaikan pengantar-pengantar itu sama baiknya seperti mengabaikan endorsement di sampul belakang buku best seller. Buka saja bagian karyanya, dan temukan setiap tanda-tanda dalam fiksi gambar yang ingin disampaikan Nano. Karena setelah ide terlahir menjadi karya (baca: buku), maka ia bebas menghadapi sidang pembacanya. (Diana AV Sasa- Penulis Buku “Monumen Ingatan: 100 Seniman Indonesia Membaca Baca Bacaan”) Judul : Sign Fiction :The Art Of Nano Warsono Karya : Nano Warsono Penerbit : Langgeng Gallery Edisi : Pertama, April 2009 (500 exp) Ukuran : 25cm x 21 cm Tebal : 203 + xxviii Genre : Buku Visual
*) Dimuat di OASE KOMPAS 24 November 2009  Posted by diana on Aug 9, '09 2:13 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Albertheine Endah |
Judul : Catatan Hati Krisdayanti : My Life My Secret
Penulis : Albertheine Endah
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-4703-9
Tebal : 358 + 68 foto
Harga : Rp. 88000
Jika Anda ingin tidak dilupakan orang segera setelah Anda meninggal dunia, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau buatlah sesuatu yang pantas untuk diabadikan. (Franklin)
Krisdayanti (KD), begitu orang mengenalnya. Ia dikenang karena lagu-lagunya beberapa kali merajai pasar musik Indonesia hingga manca. Permainan perannya di layar kaca sempat memukau dan menguras air mata ibu-ibu pecinta sinetron. Tampilan panggungnya glamor, atraktif, dan memikat. Setiap gaya rambut, pakaian, hingga alisnya menjadi barometer trend para perempuan. Ia menjadi sorotan halayak. Kiprahnya dikenang dan tercatat dalam sejarah musik tanah air. Ibarat produk, ia adalah barang kelas 1.
Sebagai ‘produk’ kelas 1, KD menjaga sekali kepuasan pelanggannya, dalam hal ini pengemarnya. Untuk itu ia berusaha sebisa-bisanya untuk menjaga kualitas ‘produk’. KD bukan hanya menjaga kualitas suara, tapi juga penampilan panggung dan citra diri seutuhnya. Baginya, pengemar yang sudah membayar mahal untuk melihatnya di panggung, layak mendapat suguhan terbaik. Penata musik, pinata rias, penata kostum, koreografer, hingga tata panggung dilakukan oleh orang-orang terpilih dan terbaik dikelasnya. Penggemar yang mengaguminya sebagai bintang, juga layak mendapat apresiasi penuh. Citra diri sorang bintang dibangunnya dengan pondasi keyakinan, harapan, dan menejemen yang kuat.
Sebagai seorang ‘bintang’, KD bukan hanya ingin populer tapi juga ingin agar dirinya selalu dikenang penggemarnya, KD menjalankan petikan kalimat Franklin di atas dengan baik. Di jagad tarik suara, ia akan dilupakan jika lagu-lagunya tak lagi memenuhi selera telinga pasar. Tapi KD terus berinovasi. Dan seperti kata Franklin, KD menulis sesuatu yang pantas dibaca orang lain, buku.
Buku itu bertajuk “Catatan Hati Krisdayanti: My Life My Secret” (MLMS), ditulis dan tata ulang oleh Alberthiene Endah, penulis yang sudah akrab dengan dunia artis dan pernah menulis biografi beberapa artis lain seperti Chrisye, Titik Puspa, Anne Avanty, Venna Melinda, dan KD sendiri. Buku ini adalah buku kedua yang mengupas sisi hidup seorang KD, sang diva, sang bintang.
MLMS ditulis dengan semangat berbagi. Menguak rahasia kesalahan di masa lalu, dan membagi pelajaran berharga dari dalamnya. Tentu saja ini bukan hal baru. Banyak orang penting (baca:public figure) yang menguak sisi-sisi gelap dirinya dengan semangat berbagi kisah dan teladan hidup. Namun, sebagai seorang bintang, upaya KD membukukan catatan hidupnya bukan semata karena ingin berbagi. Ini adalah satu dari sekian banyak upaya yang ia lakukan untuk mempertahankan kebintangannya.
Dalam rumus karir KD, eksistensi adalah kunci untuk tetap bertahan dan dikenang sebagai seorang bintang. Ketika pasar musik Indonesia digeruduk musik-musik band dan maskulin, KD harus mempertahankan kebintangannya dengan terus berkarya. Ia tak bisa memaksakan masyarakat untuk selalu menerima musik dan lagunya. Maka ia harus berkarya dalam format lain agar masyarakat terjaga ingatannya akan seorang KD. Dan ia memilih untuk membuat buku (lagi).
Buku adalah monumen perjalanan yang merekam jejak sang bintang. Ketika sang bintang masih menghela nafas, pembacanya dapat menilik kebenaran dari apa yang dikatakan buku dengan memadankannya dengan realitas. Ini tentu berbeda jika buku ditulis ketika sang bintang sudah berkalang tanah. Pembaca hanya bisa membayangkan dan mengira-ngira saja. Itu pula alasan mengapa Omi Intan Naomi menulis proses berkarya Ugo Untoro dalam senirupa justru ketika Ugo masih hidup. Meski tak lama setelah buku itu terbit, Omi rebah untuk selama-lamanya. Namun ia telah meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang:buku. Ugo maupun KD adalah bintang, dan mereka patut membangun monumennya dalam sebuah buku.
Buku pertama KD, “1001 KD”, lebih banyak mengungkap sisi positif KD sebagai bintang. Pencapaian-pencapaian dan pernik-pernik hidupnya yang membentuk citra seorang bintang. Maka MLMS mengimbanginya dengan menampilkan sisi KD sebagai manusia biasa yang tak luput dari alpa dan luput.
Dalam beberapa wawancara dengan media massa, KD menyebutkan bahwa ada tiga rahasia penting yang diungkapnya dalam MLMS. Pertama, KD pernah mengonsumsi narkoba pada 1998 hingga 1999. Kedua, KD pernah ditalak oleh Anang, suaminya. Dan ketiga, ia mengungkapkan bahwa ia pernah operasi plastik. Bagi KD, ketiga hal itu adalah rahasia besar dalam kehidupannya. KD memang bertahan untuk menjaga citra yang dibangunnya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memunculkan sosok KD yang nyaris sempurna :Cantik, tubuh sempurna, populer, materi melimpah, keluarga bahagia,dan banyak kawan.Maka segala hal-hal buruk yang dapat menurunkan citranya wajib segera ditutup dan diupayakan tidak tersiar ke publik. Maka MLMS menjadi semacam sensasi untuk kembali mengetuk ingatan orang akan seorang KD.
Bagi saya, tidak ada yang terlalu mengejutkan dari ketiga rahasianya. Narkoba adalah barang yang sudah akrab dengan dunia selebriti. Media massa sudah banyak merekam kronik artis yang pernah menjajalnya. Sebut saja Roy Marten, Ari Laso, Doyok, Slank, Sheila Marcia, dan lain-lain. Mereka itu yang kebetulan tertangkap, yang masih menikmati surga semu itu juga tak sedikit. Padatnya kegiatan keartisan yang membutuhkan stamina prima, psikologi yang tertekan karena terus menjadi sorotan, hingga lingkungan pergaulan yang akrab dengan dunia malam adalah beberapa alasan yang acap kali terlontar. Narkoba menjadi identik dengan dunia keartisan secara tidak langsung karena media banyak memberitakan artis yang menggunakan barang memabukkan itu. Maka ungkapan KD pernah menghisap shabu-shabu tidaklah terlalu mengejutkan.
Pengakuan bahwa Anang pernah melontarkan talak pada KD gara-gara KD bersikap kasar pada ibu mertuanya juga tak terlampau mengejutkan sebenarnya. Sekali lagi, ini karena media telah banyak memberitakan peristiwa kawin-cerai dikalangan artis. Hingga hal itu menjadi hal yang dianggap biasa bagi kalangan artis dimata penikmat media.
Demikian juga dengan operasi plastik. Sudah bukan gossip atau hisapan jempol jika artis banyak melakukan operasi plastik untuk merubah atau mempertahankan penampilannya agar tetap prima. Lagi pula, operasi plastik banyak dilakukan untuk membantu mengembalikan kondisi tubuh wanita paska melahirkan yang kendur. Ketika KD melakukannya, sudah tidak aneh. Selain banyak orang melakukannya, beberapa media memang pernah mempertanyakan postur tubuhnya dan melontar tuduhan operasi plastic. Maka pengakua KD kemudian hanya menjadi satu pembenaran saja atas tuduhan itu.
Selebihnya, MLMS layak mendapat apresiasi mengingat tak banyak seniman kita yang memiliki kesadaran untuk membukukan perjalanan hidup dan karirnya sehingga generasi mendatang dapat belajar dari bukunya. Pencatatan ini penting, karena sejarah ditorehkan dari sini. Buku menjadi semacam monumen sejarah hidup. Tempat dimana setiap pencapaian dan peristiwa dikenang. Kita akan mengenal sejarah dengan baik jika kita dapat mengenali sejarah diri kita sendiri, begitu kata Pramoedya. Maka tulislah sejarah hidupmu sebaik-baiknya, serapi-rapinya. (Diana AV Sasa)
 Posted by diana on May 14, '09 11:12 AM for everyone  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Sutradara: Karen Joy Fowler Pemain: Maria Bello, Emily Blunt, Kathy Baker, Amy Brenneman (2007)
"6 Buku, 6 Pembaca, 6 Bulan"
Jika Pasukan Fahrenheit 451 menganggap novel membuat orang tak bahagia karena berisi tokoh yang tak pernah ada dan membuat pembacanya terobsesi untuk hidup dalam cara yang tak akan pernah bisa mereka raih, maka film tentang klab baca Jane Austen ini memberikan jawaban lain.
Jane Austen Book Club terdiri dari 6 orang. Mereka adalah Bernadette, Sylvia, Alegra, Jocelyn, Prudie, dan Grigg. Masing-masing memiliki latar hidup yang berbeda. Bernadette adalah seorang pelaku Yoga, sudah menikah 6 kali dan masih percaya akan bahagia dan menikah sekali lagi. Sylvia adalah seorang pustakawan yang suaminya berselingkuh dengan teman sekerjanya. Allegra, anak Sylvia adalah seorang lesbian yang menyukai olahraga beresiko seperti panjat tebing dan terjun payung. Jocelyn seorang wanita independen yang tak menikah, memelihara banyak anjing, dan mantan pacar Sylvia di SMA. Prudie, guru bahasa Perancis yang perfeksionis dan jatuh cinta pada muridnya. Grigg adalah seorang teknisi universitas yang setiap hari bersepeda ke kantornya.
Mereka berenam adalah warga Sacramento, sebuah kota yang supersibuk. Setiap orang sibuk mengurusi hidupnya dan menjadi budak tehnologi. Digitalisasi membuat mereka begitu bergantung dan nyaris kehilangan sisi manusia yang humanis. Padahal teknologi yang memudahkan kehidupan pada dasarnya hanyalah benda mati yang jika salah satu bagiannya terganggu maka ia tak lagi bisa berfungsi baik. Sementara manusia, dengan kesempurnaannya tetap bisa menjalani hidup meski ada bagian bagian tubuh atau jiwanya sekalipun yang terganggu.
Untuk menjaga humanisme itulah 6 orang itu berkumpul dalam sebuah klab buku. Jane Austen Book Club namanya. Mereka menamai demikian karena sama-sama terpikat oleh karya pengarang feminis terkemuka abad 18, Jane Austen (1775-1817).
Anggota klab sepakat untuk membahas 6 novel Jane Austen dalam 6 bulan. Setiap bulan satu novel. Bertemu di rumah salah seorang di antara mereka. Satu orang menjadi presentator. Jadinya: 6 novel, 6 orang, 6 bulan. Angka yang sering dianggap angka setan itu mereka pilih tanpa bermaksud memuja setan tentu saja, melainkan kecintaan mereka pada buku. Dan di rumah Jocelyn, Mansfield Park menjadi novel pertama yang dibahas di bulan April itu.
Suasana pertemuan pertama agak kaku karena masing-masing anggota klab datang dengan kedirian masing-masing. Bernadette dengan segenap keramahan, rendah hati, dan ceplas ceplosnya, Sylvia dengan luka karena perkawinannya yang kandas, Prudie yang mengalami krisis cinta dalam perkawinannya, Allegra yang jatuh cinta dan harus menjaga perasaan ibunya, Jocelyn yang berniat menjodohkan Sylvia dengan Grigg, serta Grigg yang datang karena selain kecintaannya pada buku juga karena jatuh cinta pada tatapan pertama pada Jocelyn.
Sebagai satu-satunya laki-laki di klab baca itu, Grigg agak tersudut. Tapi ia berusaha memberikan pendapat hampir pada setiap bahasan. Mulai tokoh, peristiwa, hingga penafsiran tentang cinta, perkawinan, dan penghianatan. Bagi anggota lain, cara pandang Grigg memberi mereka masukan bagaimana pandangan sisi maskulin. Meski menyakitkan, seringkali pendapat Grigg diamini anggota yang lain.
Pertemuan pertama berlanjut ke pertemuan berikutnya. Dari bulan ke bulan. Dari Pride and Prejudice sampai Persuasion. Silang pendapat mewarnai setiap diskusi. Namun justru dari sanalah banyak hal jujur terungkap. Tokoh dan peristiwa dalam novel-novel itu mengingatkan mereka pada laku hidup yang sedang mereka jalani. Dialog-dialog dan makna setiap cerita mengantarkan pada sebuah perenungan. Mereka menemukan inspirasi, semangat, dan pelajaran hidup.
Kehidupan nyata memang dasar cerita Jane Austen. Dari keseharian itu tercipta kedekatan dan persamaan. Jadi tak benar jika novel dianggap melangit dan hanya menjual mimpi. Dalam novel terkandung juga kepedihan dan pengharapan. Semuanya memang diatur sekehendak penulisnya hingga acap kali mengundang tanya dan reaksi dari pembacanya yang merasa kehidupannya tak seindah apa yang dilukiskan novel. Memang pada dasarnya novel dibuat ideal agar pembacanya menemukan makna dari kondisi ideal itu. Menjadi tugas pembaca untuk menggali kedalaman dan menemukan saripati pesan penulis dalam novelnya.
Berdiskusi tentang novel dalam sebuah klab baca adalah salah satu cara untuk menggali makna itu. Dari perbincangan itu lahir pertukaran pikiran antaranggota. Penafsiran terhadap tokoh dan peristiwa juga beragam. Perbedaan itu yang kemudian mendorong mereka untuk mencerna pendapat anggota yang lain. Kemudian melakukan perenungan. Dan mencoba menyelesaikan setiap permasalahan hidupnya dengan hati lapang. Novel-novel itu mengingatkan mereka akan naluri manusia yang hakiki dan humanis. Bahwa mereka pada dasarnya merdeka dan tetap bisa membiarkan setiap perasaan tumbuh dalam kendali. Atau membiarkannya lepas tanpa aturan tanpa paksaan.
Menjadi manusia yang merdeka. Lepas dari egoisme dan keterpaksaan. Masing-masing memberi ruang untuk saling memahami dan memberi sebuah kesempatan pada yang lain.
Di akhir pertemuan keenam, yang berarti buku keenam, masing-masing anggota telah menemukan kunci jawaban dari permasalahannya. Keteganggan telah mencair. Senyum dan kebahagiaan memenuhi setiap hati. Klab baca itu pun menjadi lebih hidup dan akan terus hidup dengan cerita dan makna yang berbeda. (Diana AV Sasa)
 Posted by diana on May 4, '09 2:41 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Penulis : Naning Pranoto |
Mencari Asal 72 Jurus Naning Pranoto
Naning Pranoto adalah penulis fiksi dan sekaligus nonfiksi. Bukunya sudah lebih dari 20. Jebolan University of Western, Sydney, dengan ilmu khusus menulis kreatif. Ia pakar menulis dan sering menjadi pembicara workshop atau pelatihan menulis. Pernah menjajal sebagai wartawan, editor, hingga pimpinan redaksi. Maka menulis memang sudah makanan kesehariannya. Dan tentu saja jurus-jurus menulis sangat ia kuasai. Ia pun berniat menurunkan ilmu itu.
Ditulisnya di sampul buku itu: 72 Jurus Seni Mengarang. Entah mengapa ia memilih angka 72. Barangkali angka 7 dan 2 itu bermakna khusus baginya, seperti Indonesia Buku (I:BOEKOE) demikian mengeramati angka ”100” sebagai judul bukunya, seperti telihat dari judul-judul bukunya: 100 Buku Sastra Indonesia Yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan, 100 Pemberontakan Indonesia, 100 Tokoh Pers Indonesia, 100 Pledoi Indonesia, dan sebagainya. Saya tak tahu pasti dan tak menemukan rujukan tentang itu.
Berikut ini mari coba kita runut ke 72 jurus menulis menurut Naning itu. 7 MODAL UNTUK MENULIS: 1. Penguasaan bahasa dan cara menulisnya. 2. Kaya kosakata. 3. Memiliki akar dan wawasan. 4. Kepekaan terhadap lingkungan. 5. Memompa dan mengolah daya imajinasi. 6. Konsentrasi. 7. Disiplin.
6 CARA UNTUK MEMULAI MENULIS:
8. Tentukan gaya/ciri khas penulisan. 9. Menggunakan kata-kata pilihan sesuai dengan jiwa kita. 10. Perhatikan tata bahasa dan tanda baca. 11. Hindari pembukaan cerita yang bertele-tele. 12. Jangan ragu-ragu atau malu-malu. 13. Hindari merevisi sebelum tulisan selesai.
6 JURUS MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS:
14. Mencari referensi sebagai guru. 15. Rajin mengoleksi kata-kata baru. 16. Cara memperkaya kosa kata: a. Banyak membaca: karya fisksi dan non fiksi, suratkabar, majalah, buletin, brosur, tabloid, jurnal. b. Senang bergaul dengan siapa saja dari pelbagai lapisan kelas. c. Rajin mendengarkan berita, talkshow, konsultasi, pidato, ceramah, iklan radio/tv. d. Menonton film/pertunjukan seni. 17. Kursus penulisan kreatif. 18. Mengintip cara kerja para penulis. 19. Menulis dalam kepala.
7 CARA MENGHEMAT ENERGI DAN WAKTU:
20. Mulailah menulis dengan materi yang Anda ketahui dan Anda sukai. 21. Gunakanlah bahasa dan gaya yang mudah dimengerti. 22. Tulis dengan paragraf pendek. 23. Buka kamus dan referensi. 24. Jangan memaksakan diri. 25. Resep produktif: a. Kondisi tubuh sehat, in the mood, pikiran jernih. b. Saat menulis, punggung dan bahu tegak. c. Badan segar, baju bersih. d. Sirkulasi ruangan segar. e. Iringi alunan musik lembut. f. Untuk mencegah kantuk, makan permen. g. Hindari suara telepon, televise, radio, dan kunjungan teman. h. Singkirkan cemilan. i. Sediakan semua peralatan menulis. 26. Menulis untuk siapa? Agar karya segera diterbitkan: a. Prediksi pasar, selera masyarakat dan penerbit. b. Miliki pembaca yang mampu memberi kritik. c. Punya jaringan kerja dengan penerbitan. d. Buat bank naskah. e. Masuk klub menulis. f. Sering tampil di depan publik sebagai pembicara. g. Selenggarakan acara peluncuran karya terbaru dengan mengundang publik figur dan kalangan buku. h. Cetak poster untuk promosi. i. Jalin hubungan dengan pers.
10 CARA MEMILIH KEKUATAN DAN KELEMBUTAN KATA:
27. Ekonomi kata: jangan memboroskan kata-kata. 28. Pilih kata yang tidak usang dan klise. 29. Pilih kata yang definitif (contoh yang tak definitif: banyak sekali. Banyak itu berapa?). 30. Pilih kata-kata yang santun, perhalus kata-kata yang kasar. 31. Pilih kata yang enak dibaca dan didengar. 32. Pilih kata-kata yang biasa, yang penting seni merangkainya. 33. Pilih kata yang lembut pada saat yang tepat. 34. Pilih kata kerja aktif, kecuali terpaksa lain. 35. Pilih padan kata yang ada untuk menghindari pengulangan kata yang berlebihan. 36. Pilih kata-kata baku, bukan kata-kata yang telah berubah dari aslinya.
5 CARA MEMBANGUN GAYA PENULISAN
37. Mencari gaya penulisan. a. Banyaknya pengalaman menulis. b. Banyaknya bacan yang dibaca. c. Rajin menganalisis karya yang dibacanya. d. Rajin bereksperimen menulis dengan pelbagai karya. e. Berani tampil beda dalam karya. f. Siap dikritik dan dipuji. 38. Dengarkan kalimat suara hati. Berekspresi sejujur-jujurnya agar kalimat yang lahir memiliki jiwa dan siaplah dikritik. 39. Siratkan isi imajinasi (gabungkan realitas dengan sedikit imajinasi). 40. Lukiskan jangan katakan. 41. Jangan memaksakan diri: asah kepekaan imajinasi dan lingkungan.
5 CARA MENARIK PEMBACA:
42. Pengarang bukan penceramah. 43. Tulis tentang manusia. 44. Gunakan setting yang memikat. 45. Tunjukan memang Anda tahu banyak. 46. Ciptakan nama-nama tokoh yang mengesankan.
5 HAL YANG TIDAK DISUKAI PEMBACA: 1. Dianggap berat isinya. 2. Bahasanya dinilai terlalu tinggi. 3. Ceritanya bertele-tele. 4. Cerita terlalu panjang. 5. Materi dianggap asing/aneh.
5 JURUS MENGHINDARI:
47 Mengolah materi yang berat menjadi ringan. 48. Mengubah bahasa berbelit menjadi komunikatif. 49. Alur cerita jangan diulur-ulur. 50. Materi yang aneh hindari. 51. Hindari bahasa yang asing.
6 CARA MENGEDIT KARYA
52. Baca: untuk menemukan kejanggalan (kata, kalimat, karya). 53. Edit kata, kalimat, dan tanda baca. 54. Memenggal dan menambah tulisan a. Ada tidaknya perubahan materi. b. Jeli melakukan perubahan. c. Cari kata-kata yang ditambahkan itu benar-benar kuat(tidak hanya menambah jumlah kata tapi juga memperindah). d. Ciptakan kalimat yang member jiwa karya yang diubah. e. Utamakan unsur logika. 55. Cocokkan isi karya dengan judul. 56. Teliti jumlah kata/halaman. 57. Karya kita untuk siapa?
5 CARA MENGATASI KEBUNTUAN
58. Tulis saja. 59. Diskusikan materi. 60. Himpun materi (rileks, jalan-jalan) 61. Buat jadwal kerja dan dead line. 62. Bujuk diri sendiri untuk menulis.
Saya sudah menghitung, tapi tak juga ketemu genap 72 jurus. Saya ulangi lagi, tetap saja sama. Saya tidak mengerti jurus mana yang belum saya temukan. Jika 5 alasan buku tak disukai pembaca saya tambahkan, belum genap 72. Di bagian belakang buku ini ada tambahan nukilan proses kreatif 7 penulis dunia. Jika itu saya tambahkan, malahan surplus 2 jurus. Barangkali Anda bisa menghitung lebih baik dari saya, atau bisa membaca lebih teliti dari saya, silahkan dicari sisa jurus yang lain. Sulit bagi saya menerima angka 72 itu karena pada kenyataannya ada anak-anak jurus yang jika dijumlah akan lebih dari 72 (silahkan hitung sendiri).
Saya bukan ahli matematika yang ingin mencari misteri angka 72 itu, maka biarkan sajalah ia tetap apa adanya. Saya hanya menggarisbawahi bahwa buku ini memberi referensi tambahan yang berguna bagi mereka yang ingin lebih terampil menulis. Asal setelah membaca buku ini bukannya kreativitas jadi mandeg karena terbentur banyaknya aturan-aturan. Bagaimanapun juga sang penulis adalah guru menulis di pelbagai pelatihan. Jadi buku ini pun tak jauh dari pola-pola buku pelatihan yang umumnya teoretis. Pelatihan menulis hanya mengajarkan bagaimana menulis bukan bagaimana agar Anda bisa menulis. Jurus apa pun dari guru mana pun, kuncinya ada di diri Anda sendiri bagaimana memulai dan berdisiplin menulis tanpa berputus asa. Selamat menulis. (Diana AV Sasa)
Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang Penulis : Naning Pranoto Penerbit : PT Primadia Pustaka (2004)
 Posted by diana on Apr 26, '09 7:42 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Andrias Harefa |
Oleh Diana AV Sasa
“Buku ini bisa dibaca dalam 10 Menit,” demikian Andrias Harefa membuka tulisan dalam bukunya berjudul Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang. Kalimat ini provokatif sekali mengingat tebal bukunya sampai 100 halaman dan itu musykil menyelesaikannya dalam 10 menit.
Namun, Andrias menyarankan agar membaca saja halaman sebelah kiri di setiap awal 17 subjudul yang merupakan saripati dari bab terkait. Jika tak mengerti, barulah membaca uraian di halaman sebelahnya yang juga tak terlalu panjang.
Saya mencoba tantangan itu. Dan benar saja, dengan membaca sekilas saja—tak sampai 10 menit—saya mendapat gambaran bagaimana menulis bisa menjadi mudah. Kutipan-kutipan yang diambil sangat mendasar, motivatif, dan menjawab pertanyaan klasik kebanyakan penulis pemula. Sajiannya yang nge-pop disertai ilustrasi kartun yang lucu membuat kalimatnya mudah dicerna dan dipahami.
Andrias menulis buku ini sebagai jawaban kegelisahan yang dialaminya ketika membaca beberapa buku mengenai mengarang yang justru banyak menguraikan hal-hal teknis seputar tata penulisan yang membuat dahi berkerut. Salah satunya buku Arswendo Atmowiloto, Mengarang Itu Gampang.
Seperti halnya saya, ternyata Andrias menemukan kesan yang sama setelah membaca buku sang maestro itu, bahwa mengarang itu alih-alih gampang, malah makin sulit.
Menurut Andrias, ada kondisi prasyarat yang harus dipenuhi agar menulis menjadi gampang. Artinya, harus ada kesediaan berproses melalui pembelajaran yang harus dilewati bila ingin mencapai tahap ”gampang” itu.
Karena itu, Andrias memilih dua kata AGAR-BISA sebagai representasi tujuan dari bukunya. Ia hanya ingin menunjukkan jalan bagaimana agar menulis itu menjadi gampang, bukan memaparkan jalan berliku yang mesti dilakukan dalam teknis menulis. Ia berfokus pada motivasi yang membangkitkan minat dan ambisi penuh cinta untuk belajar menulis sampai hal itu menjadi benar-nemar gampang.
Untuk itu, di awal Andrias memberi lembar khusus peringatan dibukunya.
“Anda tak bisa belajar menulis/mengarang dengan membaca buku ini. Sebab buku ini adalah buku tentang menulis/mengarang. Artinya, dengan membaca buku ini Anda baru belajar tentang dan sama sekali belum belajar menulis dan mengarang. Menulis/mengarang adalah praktik, sehingga hanya dengan melakukannya Anda menjadi bisa,” demikian tulisnya.
Dari halaman peringatan ini saja saya sudah bisa menangkap arah dan tujuan ke mana Andrias akan menggiring isi bukunya. Dasar yang diletakkannya demikian jelas. Kunci dari ”bisa” menulis adalah latihan dan latihan. Teori sebanyak dan sebaik apa pun yang diserap hanya akan mandeg jika tak pernah mulai berlatih menulis.
Sebelum mulai berlatih, ada pondasi dasar yang harus dikukuhkan terlebih dahulu. Ini adalah kondisi prasyarat yang utama. Keyakinan bahwa ”aku bisa menulis” harus dibangun kuat. Siapa saja yang pernah sekolah di Sekolah Dasar pasti pernah membuat karangan. Artinya, mengarang adalah keterampilan sekolah dasar yang mampu dilakukan.
Keyakinan itu mesti didorong dengan rasa cinta yang kuat pula terhadap aktivitas menulis. Dengan kecintaan, menulis menjadi segampang menulis puisi cinta romantik saat jatuh cinta. Ini adalah kekuatan luar biasa yang berada di bawah sadar. Cinta membuat seseorang menjadi sensitif, peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
Dengan demikian hati lebih mudah digerakkan. Ketika gerakan hati ini dipadukan dengan wawasan, lahirlah ide. Ditambah keterampilan sekolah dasar, lahirlah tulisan, apa pun bentuknya. Sederhana sekali menganalogikan cinta dan menulis ini.
Cinta saja tak cukup. Perlu komitmen, kesungguhan hati, tekad bulat, keyakinan, dan percaya diri untuk bisa mengarang agar cinta itu tak kehilangan arah. Minat dan ambisi yang kuat untuk membuktikan sesuatu yang kita yakini sebagai ‘kebenaran’ akan membantu menjadikan mengarang itu mudah.
Andrias benar, apa yang tertanam dalam hati sebagai sebuah keyakinan memang akan melahirkan dorongan ambisi dan kehendak besar untuk membuktikan kebenaran keyakinan itu. Berjalan dengan keyakinan akan melahirkan hasil akhir yang penuh kekuatan, berisi, dan memuaskan batin.
Agar kemampuan menulis berkembang menjadi kebiasaan, menurut Andrias, maka latihan adalah bangunan berikutnya yang mesti ditegakkan. Tulis apa saja yang bisa ditulis. Ide bisa berasal dari apa saja di mana saja. Hanya diperlukan situasi hati yang kondusif dan kebiasaan mengamati dunia sekitar agar ide itu muncul sebagai sebuah kebiasaan.
Yang perlu dilakukan kemudian adalah menumbuhkan sikap rasional dengan melatih pertanyaan atas ide tersebut. Apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana diolah terus hingga ide itu berkembag. Membiasakan diri dengan mengolah pertanyaan akan melatih membangun argumentasi rasional.
Resep Andrias yang berasal dari perenungan pengalaman pribadi dan wawasannya ini memberi petunjuk jelas bagaimana caranya sebuah ide bisa dikembangkan dengan mudah. Kuncinya satu, menjawab 6 pertanyaan pokok itu.
Lantas bagaimana setelah ide itu ada? Andrias menawarkan resep dari pengalaman pribadinya dan juga beberapa penulis lain yang cukup dikenal. Riset adalah tahap meramu ide itu menjadi tulisan yang beraneka rasa dengan bahan yang beragam pula. Riset ini adalah kata lain dari mengumpulkan bahan tambahan. Sumbernya bisa dari buku, majalah, koran, tivi, atau internet.
Kian banyak buku yang dibaca, kian banyak bahan tambahan yang dipunya, maka materi karangan pun akan makin bervariasi. Ibarat orang memasak, punya bahan 3 sayuran dengan 10 sayuran tentu beda. Bahan 10 sayuran sudah pasti akan menghasilkan masakan yang lebih variatif.
Menulis pun begitu. Bahan-bahan tambahan itu yang akan memperkaya padu padan ide dengan wawasan. Tugas penulis adalah meramunya hingga menjadi enak dan lezat disantap. Menambah dan mengurangi di sana sini sampai ketemu rasa yang pas.
Bagaimana mulai meramunya jika kita tak punya pengalaman mengolah sebelumnya? Andrias menularkan ajaran guru menulisnya, Mardjuki, seorang wartawan Yogyakarta yang mengajarkan 3 N: Niteni (mengamati), Nirokke (meniru), dan Nambahi (menambahi). Amati saja beberapa tulisan orang lain, pahami karakternya, tiru gayanya atau pola berpikirnya, buat dengan gaya sendiri dengan menambahi di sana sini.
Menurut saya, inilah seni menulis itu, seperti penjahit yang menelisik dan menyatukan bahan demi bahan. Beda orang beda hasil jahitan. Di sini kompetisi itu terletak. Keterampilan dan latihan terus-menerus akan menghasilkan karya yang berbeda tergantung kualitas latihannya. Seorang atlet yang latihan sekali dengan sepuluh kali tentu hasilnya akan berbeda, bukan? Dari mana mulai berlatih menjahitnya? Kebanyakan ahli menyarankan menulis dengan sistem yang linear otak kiri. Dari ide, lalu topik, judul, dan gagasan pendukungnya, baru kemudian penutup.
Andrias mencoba menawarkan gagasan berbeda dengan pola otak kanan. Memulai bisa dari mana saja, tengah, atau akhir tak masalah. Dari mana saja ide itu awalnya bermula. Yang penting ditulis saja dulu. Nanti dengan sendirinya akan berkembang pikiran itu untuk melengkapinya. Andrias tentu saja tetap menyarankan beberapa hal berkaitan dengan pemilihan judul dan topik yang pas dengan ramuan yang dibuat.
Jika sudah jadi, maka tinggal mengkritik naskah mentah yang sudah ada. Boleh dikritik sendiri atau orang lain agar lebih komprehensif. Lalu coba kirim ke media untuk dipublikasikan sehingga mutu tulisan teruji. Jika ditolak jangan berputus asa, coba lagi dan lagi. Penolakan mesti dimaknai sebagai pemicu kesadaran bahwa tulisan kita tak sempurna atau belum pas dengan karakter media. Maka akan lahir kesadaran untuk terus belajar dan belajar, berlatih dan berlatih. Maka kesediaan untuk memahami mutu dan pasar suatu media menjadi penting.
Andrias menulis buku ini berangkat dari ketidakpuasan buku yang pernah dibacanya, maka ia mampu melahirkan obat ketidakpuasan itu. Terbukti, buku ini jauh lebih mudah dipahami daripada buku Arswendo. Andrias menulis dengan sistematika yang meskipun melompat-lompat dan berulang, namun cukup singkat, praktis, dan sederhana untuk dipahami. Dibaca ditoilet atau di kendaraan pun buku ini masih bisa dimengerti tanpa meninggalkan beban berarti di hati dan pikiran.
Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang Penulis : Andrias Harefa Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (2002)
 Posted by diana on Apr 20, '09 11:44 PM for everyone  | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Sutradara: Michael Radford Pemain:Philippe Noiret, Massimo Troisi, Maria Grazia
Puisi itu terangkai seperti ini:
Di pulai ini, laut Semuanya laut Mengombak dari waktu ke waktu Berkata ya, lalu tidak, Lalu tidak Dalam biru, dalam buih, dalam cangkang Berkata tidak, lalu tidak Tak pernah tenang Laut namaku, ulangnya Menerjang karang Tanpa keyakinan Lalu dengan tujuh lidah hijau dari tujuh macan hijau Dari tujuh lautan hijau Membelainya, mencumbunya, membasuhnya dan menumpahkan di dadanya Seraya menyebut namanya, aku lah laut
Sebait sajak tentang laut itu ditulis oleh seorang Senator yang juga Diplomat ulung di Partai Komunis di Chili. Seorang peraih nobel Kesusastraan dan pujangga paling diperhitungkan di abad 20,Pablo Neruda namanya.
Mari simak puisi kedua ini,
Senyummu menebar di wajahmu serupa kupu Senyummu serupa mawar Sebatang galah yang menghujam, debur air Senyummu adalah buih perak yang menghentak Aku bahagia ada disisi perempuan muda yang perawan Seperti berada di tepi samudera putih Aku menyukainya Aku suka diammu Karena seperti kau tiada …… Telanjang Kau sesederhana sebelah tanganmu Lembut, kuasa, dan kecil Bulat, dan bening Kau memiliki garis bulan, lekuk apel Telanjang Kau setipis gandum tak berkulit Telanjang, kau biru seperti malam di Kuba Ada anggur dan bintang di rambutmu Telanjang, kau begitu luas dan kuning Seperti musim panas di gereja bersepuh emas
Kata berangkai ini ditulis seorang pemuda anak nelayan yang tak ingin jadi nelayan. Ia memilih menjadi tukang pos yang setiap hari mengayuh sepeda ke atas bukit di Isla Negra, sebuah kota kecil di bibir pantai Itali. Dengan tekun ia mengantar surat-surat pada seseorang bernama Pablo Neruda yang tinggal diatas bukit, hanya seorang, satu alamat, saban hari.
Anak nelayan bernama Mario Ruoppolo itu bukanlah seorang pujangga. Bahkan ia tak mengerti bagaimana menulis puisi. Ia hanya pengagum dari puisi-puisi Neruda. Sama seperti penggemar lainnya. Namun ia ingin sekali bisa menulis puisi. Maka belajarlah ia pada sang maestro yang kebetulan ia jumpai saat mengantar surat.
Bisakah seorang yang tak pernah menulis puisi membuat puisi? Mario mencoba meyakininya dengan mencoba belajar pada pujangga kawakan sekelas Pablo Neruda. Masih ingat bagaimana Jamal belajar pada William di film Finding Forester? Mendapat kesempatan untuk belajar pada sang maestro tentu sebuah peluang emas. Tak setiap orang mendapatkannya. Jamal sudah membuktikan dengan hasil yang tak mengecewakan. Mario pun sama, tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia bulatkan tekad untuk belajar.
Modal dasar untuk menulis sudah ia punya, minat dan kemauan untuk belajar. Kata Andrias Harefa dalam bukunya Agara Menulis Bisa Gampang, Dua hal itu adalah prakondisi yang mesti dimiliki seseorang yang ingin menjadi penulis. Mario memilikinya sudah.
Usaha Mario untuk berkenalan dengan sang maestro bukanlah perjuangan yang mudah. Pablo adalah penulis kenamaan yang acap dielukan ribuan penggemar. Tulisannya mendapat apresiasi dari kalangan sastra dunia. Ia juga pejabat dan politisi yang cukup disegani. Demikian tinggi jarak yang mesti direngkuh Mario untuk menebas batas sosial itu. Tukang pos dan politisi. Anak nelayan dan pujangga dunia. Maka butuh keberanian yang tak kecil untuk mendekati dan mencoba berteman dengannya. Mario meneguhkan tekad untuk bersahabat dan belajar dari sang guru besar dengan cara yang alami. Berbagai upayapun ia coba meski dengan rikuh.
Mario melakukan pendekatan dengan tawaran persahabatan. Beberapa cara ia coba. Pablo yang awalnya bersikap dingin, lambat laun menanggapi juga hasrat Mario. Maka persahabatan itu pun mulai terjalin. Pablo pelahan mengenalkan jurus dasar menulis puisi, metafora. Sebuah langkah menemukan bahasa dengan cara yang tidak klise. Di tepi samudera Pablo menuntun Mario menemukan metaforanya sendiri. Caranya dengan memancing Mario menggunakan sebuah puisi tentang lautan, hingga Mario mampu mengungkapkan perasaannya ketika mendengarkan puisi itu dan mencari pengibaratan dari perasannya. Itu lah awal pertama Mario menemukan metaforanya sendiri. Metafora yang tidak klasik namun sesuai untuk apa yang akan digambarkannya.
Olah mengolah metafora itu membuat Mario terbiasa mencari persamaan benda satu dengan benda lain, peristiwa satu dengan peristiwa lain. Dan gayung bersambut ketika ia jatuh cinta pada gadis anak pemilik café bernama Beatrice Russo. Metafora Mario mengalir sendiri dengan alami dari mulut dan pikirannya yang sudah peka pada pengandaian kata. Perempuan muda itupun takhluk hatinya setelah mendapat serbuan syair demi syair dari tukang pos itu. Hati terpaut oleh kata maka pintu pernikahanpun terbuka dan mereka memasukinya berdua dengan Neruda sebagai pendamping perkawinan. Persahabatan mereka telah naik satu tingkat pada hubungan yang lebih akrab laiknya saudara.
Ikatan persahabatan itu tak lekang meski kemudian Neruda harus kembali ke negerinya, Chili, karena hukumannya sebagai buangan politik telah dicabut. Sebagai sahabat yang tak lupa pada kawan lamanya meski ia hanya seorang tukang pos dan anak nelayan kecil, Neruda mengirim surat bernada rindu pada kota kecil tempat tinggal Mario. Di saat itu, kondisi politik di negeri Mario sedang memanas. Mario karena begitu takzim berguru pada guru puisinya yang seorang komunis, maka ia pun memilih haluan politik yang sama.
Neruda sebagai politisi dan sebagai pujangga pernah mengajarkan pada ‘murid’ puisinya itu, ia menulis puisi sebagai bentuk ekspresi dari menyuarakan orang-orang yang bahkan tak mengenal puisinya. Mereka adalah saudara-saudaranya yang terpinggirkan dan termarjinalkan oleh penguasa. Puisi yang ditulisnya membawa jiwa perlawanan arus bawah. Suara orang-orang marjinal yang memberangkatkannya ke kursi senator. Dan Mario menubatinya.
Suasana dilapangan riuh rendah saat aksi kudeta itu hendak digelar. Orator diatas panggung meneriakkan nama Mario untuk membacakan puisi Pablo Neruda. Mario menyesak diantara kerumunan orang yang bersemangat memberontak, berusaha menggapai panggung. Namun belum sampai langkahnya berakhir, polisi telah menyeretnya dan menghabisinya hingga tewas.
Mario si anak nelayan yang tukang pos itu telah bisa menulis puisi. Ia juga aktif di politik kemudian. Semua karena persahabatan yang dijalinnya dengan seorang dengan nama besar peraih nobel sastra, Pablo Neruda. Demikian erat persahabatan itu hingga pilihan politik pun ia sejalan dengan sahabatnya. Puisi telah mengantarnya pada sebuah perubahan berekspresi yang awalnya tak pernah dimiliki anak seorang nelayan. Pun ketika ajal menjemput dengan paksa, puisi masih menjadi musababnya. Pusi yang ditulis sahabat dan guru menulisnya, Pablo Neruda. (Diana AV Sasa)
 Posted by diana on Apr 18, '09 10:38 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Arswendo Atmowiloto |
“Jangan hanya membaca. Kalau saat itu sudah mencoba mengarang, pasti lain halnya. Untuk yang terakhir ini saya percaya penuh. Cobalah mengarang sekarang juga, jangan menunggu dua puluh tahun lagi. Jangan menunggu dua hari lagi. Sekarang juga. Tutup buku ini, mulai.”
Begitu tulis Arswendo dalam pengantar edisi kedua buku Mengarang Itu Gampang yang sudah lebih dari 5 kali cetak ulang selama sepuluh tahun sejak 1981 hingga 2001.
Paragraf terakhir Arswendo itu mendorong saya untuk terus memamah isi bukunya. Sebagai penulis pemula, kata-katanya cukup melecut untuk penasaran mengetahui trik dan resep apa yang dipunya seorang maestro agar menulis (baca: mengarang) bisa lebih mudah dan ciamik. Maka saya pun menekuni setiap bab pada buku itu dengan gairah yang menyala.
Buku itu tak terlalu tebal. Hanya 118 halaman. Cukup ringan untuk sebuah buku panduan. Ditulis dengan teknik tanya jawab. Gaya bahasanya juga ringan dan bertutur meski materi bahasannya berat. Wendo tampaknya cukup mahir menjadikan yang berat jadi enteng, yang berkabut menjadi jernih dan terang.
Tapi ada “tapinya”. Saya jadi jenuh saat memasuki lembaran tengah. Semangat dan gairah yang sejak awal saya sulut mendadak meredup dan menghentikan alur baca saya hingga hanya membaca sekilas lalu.
Pada awal bab, Wendo mengajak pembaca untuk melihat alasan mengapa menurutnya mengarang itu gampang. Ada 4 pondasi yang diletakkannya untuk mengatakan menulis itu gampang. Pertama, harus bisa membaca dan menulis. Syarat ini tentu banyak yang bisa memenuhi, tak terlampau sulit.
Kemudian pondasi berikutnya adalah minat dan ambisi yang terus-menerus. Membaca dan menulis yang baik perlu latihan, perlu disiplin, perlu minat yang tak kunjung habis. Minat dan ambisi seperti juga rasa cinta, selalu ada, terus mengalir. Ini didasarkan pada kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang dicintai, dan kita percaya, ada Sesutu yang baik yang akan kita lakukan dengan itu. Wendo benar tentang ini. Rasa cinta memang membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan ringan dijalani. Jika sudah ada rasa cinta, maka langkah akan mengalir dengan sendirinya. Semangat ini menjadikan menulis terkesan mudah.
Pondasi sudah diletakkan. Wendo kemudian menuntun memahami bagaimana meramu sebuah ilham sehingga menjadi ide. Diperlukan dua hal yang bisa menjadi kompas: Untuk apa kamu menulis? Apa sebenarnya kemauanmu menulis? Di sinilah peran pandangan penulis terhadap sebuah ilham sangat menentukan. Pada bagian ini penulis bisa memilih ingin menggabung realitas dan imajinasi dengan porsi dan cara bagaimana. Sebagian atau keseluruhan, terserah penulisnya.
Ide yang sudah ada itu hanya akan menjadi sebatas ide jika tak dituliskan. Maka segera saja mulai menulis. Jika belum siap, bisa diawali dengan membuat coretan tentang ide dasar yang ingin dikembangkan. Untuk itu diperlukan pengetahuan tambahan. Maka penulis harus mencari informasi pendukung idenya itu sehingga bahan yang akan diolah makin banyak.
Saya sepakat dengan Wendo. Di era internet ini, mencari bahan pendukung penulisan sudah bukan hal sulit. Cukup tanyakan Paman Google, dan segudang bahan akan tersedia. Hanya tinggal diperlukan kemahiran menguatak-atik bahan dan menyelipkan gagasan kita dalam rangkaian tulisan. Tugas seorang pengarang sebenarnya adalah menggabung-gabungkan hal yang sepertinya tak ada hubungannya menjadi saling terkait. Ini adalah seni menulis kreatif yang merupakan sikap dasar penulis. Kreatif menggabung-gabungkan, seperti menjahit kain perca hingga menjadi lembaran warna-warni yang cantik dan unik berirama.
Sampai tahap ini saya masih cukup mengikuti alur buku ini. Memasuki bahasan berikutnya, saya mulai jenuh. Ini seperti mendapat pelajaran mengarang di sekolah. Beberapa macam jenis plot dipaparkan. Plot dengan ledakan, plot lembut, plot lembut meledak, plot terbuka, plot tertutup, sampai bagaimana mengembangkan plot.
Plot yang sudah didapat, tulis Wendo, harus dikembangkan dengan mencari sebab agar mendapat kesimpulan akibat. Kemudian bagaimana plot ini dikunci dengan penutup dan akhir yang tepat. Selanjutnya diulas bagaimana menghadirkan tokoh, memilih tempat/lokasi cerita dan penggambarannya. Diakhir baru dibahas mengenai tema. Ini agak janggal, karena tema biasanya justru dibahas diawal sebagai sebuah bagian besar dari rentetan teori sebelumnya. Ini barangkali seperti teori paramida terbalik. Yang besar ada di belakang.
Teori yang coba disederhanakan dengan cara dialog ini memang menjadi terkesan ringan, namun tetap saja membuat kepala penuh teori yang mengesankan mengarang jadi berat dan susah karena banyak aturannya. Bagi penulis pemula, hal ini membuat awal menulis jadi terasa berat sekali. Aturan hanya membuat ide penulisan cupet. Belum-belum sudah dihadang aturan yang menggertak bahwa tulisan yang tidak patuh aturan adalah tulisan buruk.
Tips dan trik yang saya harapkan tidak terlampau terpenuhi sampai halaman ke 65 buku ini. Saya hanya seperti mendapat pengulangan dari pelajaran mengarang saya di sekolah. Pada sisa bab yang ada, penulis memberikan bonus pengetikan dan ejaan yang baik. Ini menjadikan beban untuk memulai tambah berat dipundaki. Baru mau mengawali sudah tambah beban ejaan yang rumit diingat. Mau mulai mengetik saja sudah khawatir ejaan dan bahannya tidak tepat. Materi tambahan ini jika tidak suka bisa dilewatkan saja, karena meski menulis dengan ejaan yang benar itu lebih baik dan penting, namun tugas itu bisa menjadi lebih ringan ketika dibagi dengan editor yang lebih menguasai ilmunya. Tugas penulis adalah menulis.
Bonus lain di bab akhir adalah bagaimana mengirim karangan ke media. Bagaimana antisipasi jika karangan ditolak. Hingga sistem pembayaran honor. Pentingnya membaca karya satra, dan juga beberapa pekerjaan alternatif yang bisa dijadikan sandaran hidup seorang penulis. Walau saya kurang yakin, Wendo tetap keukeuh menyakinkan untuk percaya bahwa mengarang itu gampang. Tinggal menjajal dan membuktikannya. Percaya bahwa mengarang itu pekerjaan terhormat, tidak kalah dan tidak lebih daripada profesi-profsi lain.
Buku ini adalah buku yang cukup legendaris pada era 80an. Ketika itu menulis masih belum dianggap pekerjaan menjanjikan. Sehingga kehadiran buku ini cukup membantu sebagai panduan bagi mereka yang ingin mulai menekuni dunia tulis menulis. Nama besar seorang Arswendo mempengaruhi larisnya buku ini di pasaran. Saya pribadi sebagai penulis pemula, melihat buku ini lebih sebagai panduan menulis dengan baik, bukan sebuah buku yang memberikan tips dan trik menulis sehingga menjadi mudah.
Alasan kecintaan pada profesi memang bisa membantu beban menjadi ringan, namun untuk menjadikannya mudah butuh panduan dan penjelasan yang mudah dimengerti pula. Buku ini tidak cukup mengakomodir itu. Gaya penulisannya memang ringan, namun topik bahasannya berat. Contoh-contoh buku yang dihadirkan pun cenderung jarang dikenal. Sebut saja The Social Construction of Reality-nya peter l berger dan Thomas Luckman, Little House on the Priere-nya Laura Ingall Wilder, Untung Suropati-nya Abdul Muis, dan sebagainya. Bagi yang tidak pernah membaca buku ini akan sulit sekali menangkap penggambaran yang dimaksudkan penulis.
Terlepas dari kekurangan dan kelemahannya, buku ini layak menjadi referensi bacaan dan panduan bagi mereka yang telah rajin menulis, telah menemukan menulis sebagai sebuah aktivitas yang penuh disiplin dan ingin mengembangkan kemampuannya sehingga tulisannya lebih bernas. (Diana AV Sasa) Mengarang Itu Gampang Penulis : Arswendo Atmowiloto Penerbit : PT Gramedia (1981-2001)  Posted by diana on Jan 25, '09 12:28 AM for everyone  | Category: | Movies | | Genre: | Classics |
Sutradara: Philip Khaufman Pemain: Geoffrey Rush, Joaquin Phoenix,Kate Winslet, Michael Caine
Menulis, bagi seorang penulis adalah ekspresi kebebasan. Penyaluran inspirasi tanpa batas. Ungkapan kejujuran hakiki. Maka jangan sekali-kali mengekangnya. Karena hasrat itu semakin dihadang akan semakin meradang. Bahkan menggila melebihi batas nalar. Kungkungan dan siksa tak kan mampu menghentikannya.
Ini cerita tentang Homo Perversio, manusia yang bertahan dalam kurungan. Adalah Marquis de Sade, seorang penulis yang dikurung dalam Rumah Sakit Jiwa, The Charenton Asylum for The Insane. Sade dijebloskan dalam Asylum karena tulisan-tulisannya yang mengumbar erotisme dianggap menghina orang-orang beradab pada masa itu. Masa dimana Napoleon Bonaporte berkuasa di Perancis dan budaya Aristokrat menjadi panglima. Tulisan sade yang vulgar dan mengungkap sisi liar mereka sebagai manusia adalah penghinaan terendah atas kehormatan yang mereka junjung. Maka demi menjaga kehormatan kaum Aristokrat, mengirim Sade ke dalam Asylum adalah hukuman yang dirasa paling tepat.
Sade dianggap gila maka ia layak masuk Asylum yang selain berfungsi sebagai penjara juga sebagai Rumah sakit Jiwa. Tempat yang pas untuk memenjarakan pikiran liarnya. Karena berpikir dan menulis diluar pikiran orang kebanyakan maka ia tak biasa. Jika tak sama dengan yang lain itu berarti diluar normal. Tidak normal sama artinya dengan tidak waras. Dengan ketidak warasannya maka ia layak diasingkan dan diisolasi dari kehidupan sosial.
Namun, kungkungan jeruji Asylum tak membuat Sade berhenti menulis. Justru dalam isolasi sosialnya ia makin menjadi-jadi. Hak istimewa yang didapatnya karena kebaikan kepala Asylum meberinya banyak kesempatan untuk hidup mewah dalam penjara yang suram. Selnya tak seperti sel kebanyakan. di dalamnya terdapat furniture antik yang mahal. Pakaian ala Aristokrat yang juga nyaman. Dan tentu saja, pena bulu angsa, tinta, serta kertas untuk menulis. Menurut kepala penjara, membiarkan Sade menulis adalah bentuk terapi yang tepat bagi Sade. Menulis menjadi penyaluran pikiran-pikiran mesumnya. Syaratnya hanya satu, tak boleh ada naskah yang keluar dari penjara.
Inspirasi terus berdatangan dari orang-orang yang dilihatnya sehari-hari. Tak banyak karena memang hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk Asylum. Dua diantaranya adalah ……….dan ………… Si……..adalah seorang gadiss binatu yang tugasnya setiap hari mengantar sprei ke kamar tahanan. Si……..adalah seorang pastur yang juga sekaligus dokter dan kepala Asylum.
Pada kedua anak manusia ini sade melihat sebuah hasrat terpendam yang ditahan hingga menyesak. Masing-masing bertahan karena dalam pikirannya telah tertanam doktrin-doktrin agama yang mengancam dengan kata: dosa. Juga ketakutan pada pandangan masyarakat yang cenderung menganggap sex sebagai sesuatu yang tabu dan tak layak diperbincangkan. Maka Sade pun memberontak. Baginya, sex adalah kebenaran sejati yang mengikat semua manusia. Dan ditulisnya roman dua insan itu dengan bingkai sex.
Berikut ini petikan tulisan Sade itu: Ini kisah tentang bidadari bernama Justine. Perempuan tercantik yang pernah masuk biara, bertubuh begitu menggiurkan. Sepertinya sayang menyerahkannya pada Tuhan. Suatu pagi uskup meletakkan tangannya diatas paha Justine. Ia berseru,” Aku datang mengaku dosa, bukan membuat yang lain”. Pastur tua itupun memangkunya dan mengangkat roknya keatas panggul. Menunjukkan daging merah muda bagian belakangnya. Disana ditengah pantatnya terdapat kuncup akan mekar itu memohon untuk dipetik. Sebelum Justine bisa melepaskan diri dari genggamannya, Pria tak berTuhan ini mengambil hosti, tubuh Yesus Kristus dan meletakkannya di kemaluan gadis itu. Sementara mengendurkan kejantanannya dari balik jubah sang uskup menggumamkan sebuah doa latin. Lalu dengan kuat didorongnya kedalam tubuh Justine.
Dasar penulis keras kepala, Sade tak bisa tahan membiarkan karyanya tak dibaca orang lain. Untuk apa menulis jika hanya untuk dibaca sendiri. Dengan bantuan Madeleine, Sade menyelundupkan naskah-naskahnya ke luar penjara. Mengirimnya pada percetakan dan buku itupun menyebar luas di pasaran. Menjadi buku yang paling dicari karena isinya membuat penasaran sekaligus karna terlarang.
Kisah itu pun membuat Perancis heboh. Rakyat kebanyakan membacanya dengan antusias. Mereka membacanya dengan gembira seakan menemukan ungkapan yang paling mewakili dari gairah yang terpendam. Sade meneriakkan agar wanita-wanita berjuang untuk keluar dari tirani kelaliman. Ia percaya betul bahwa kekuatan laki-laki ada pada tinjunya, tapi kekuatan wanita ada ditempat lain. Di celah kelabu diantara dua pahanya.
Kalangan Aristokrat membacanya dengan sembunyi-sembunyi. Beberapa mencaci maki dengan kemarahan meledak-ledak. Namun sebagian membacanya di tempat tersembunyi dengan antusias tak terlukiskan. Membaca dengan rahasia, karena jika ketahuan maka itu akan menjatuhkan martabatnya. Hal yang sangat dihindari kaum Aristokrat.
Sade mendengar tentang pembakaran buku-bukunya. Ia tak sedih apalagi marah. Ia justru tertawa puas. Bukunya laris dan ia mendapat keuntungan materi. Pembakaran adalah resiko penulis prosa yang membakar. Bukunya akan selalu laris sebelum dibakar
Bacaan itupun sampai ke hadapan Napoleon sang penguasa. Darahnya mendidih mendengar cerita itu dibacakan punggawanya. Darah birahi yang bercampur kemarahan. Maka demi keagungannya yang tak boleh terhinakan, ia perintahkan untuk menyita semua buku-buku itu dan membakarnya di halaman istana disaksikan semua warga. Sade harus dibunuh. Namun atas saran penasehat istananya, Napoleon merubah keputusan.
Menjaga martabat adalah hal penting bagi kaum Aristokrat. Membunuh seseorang yang dibenci tapi sekaligus dipuja tak akan menguntungkan posisi Napoleon. Harus ada kesan bahwa Napoleon bukan pembunuh melainkan penyembuh. Hukuman mati mesti di kemas sedemikian rupa hingga tak mengesankan kesadisan yang mencolok dimuka umum. Maka dikirimkan lah seorang dokter jiwa yang terkenal sadis dalam menyembuhkan pasiennya. Dr. Royar Colard ditugaskan untuk menanganai kasus Sade.
Tragedi tirani penih siksa itu pun dimulai. Langkah awal yang dilakukan adalah memisahkan Sade dari alat tulisnya. Pena bulu angsa dan tinta disita berikut kertas-kertasnya. Sade sempat berang dan memohon-mohon. Memisahkannya dengan alat tulis sama saja membunuhnya pelahan. Tapi gairah menulis yang meledak dalam jiwa Sade mendorongnya untuk berpikir dan mencari cara lain untuk menulis. Pencerahan itupun datang. Minuman anggur yang tersisa dibotol dijadikannya tinta. Baju yang melekat di tubuhnya dijadikannya tumpahan segala ide yang berkelebatan. Buku baju itupun tercipta. Sade merasa menang. Sebaliknya, Dr Royar dan sang pastur tentu saja marah besar. Tindakan Sade sudah dianggap kelewatan.
Maka Sade harus mau menanggalkan semua pakaiannya. Anggur di kamarnya juga disita. Tak ada lagi alat yang bisa digunakan untuk menulis. Sade meraung dalam kegelisahan. Geram menahan limpahan amarah dan ide yang bergejolak di pikiran. Mungkin memang menulis adalah takdirnya, Sade menemukan cara lain untuk menulis. Dilukainya ujung jemari untuk mendapatkan darah merah yang segar. Sprei putih ranjangnya dipakai sebagai alas tulis. Cerita barupun meluncur lagi ke pasaran. Masih atas kebaikan Madeleine yang tetap dengan setia menjadi perantaranya.
Asylum kebakaran jenggot karena merasa kecolongan. Sade pun dihukum lebih kejam lagi. Tak ada satu barang pun tersisa dikamarnya selain tubuh bugilnya. Sade tak juga menyerah. Baginya, tak ada yang bisa menghentikannya menulis selain kematian. Maka ia bersekutu lagi dengan Madeleine. Selama ia masih punya lidah maka ia masih bisa bicara. Dituturkannya ide di pikirannya pada Madeleine. Gadis muda itu lantas menyalinnya di kertas. Mengirimnya ke penerbit dan buku baru karya Sade pun muncul lagi di pasaran.
Dr Royar makin berang. Pastur…..menahan amarah luar biasa. Dia berada pada tiik nadir antara ketulusan persahabatan dan kehancuran karir. Nuraninya acapkali membenarkan gagasan Sade, namun profesinya menuntutnya untuk patuh pada tatanan yang ada. Hanya rintihan kesedihan tertahan yang bisa dilakukannya ketika lidah sahabatnya akhirnya harus dicerabut dari rongga mulutnya. Sade terpuruk dalam jurang siksa tiada akhir. Pembinasaan bakat dan gairah menulis yang brutal dan bar-bar.
Namun Sade adalah penulis sejati. Tak akan terhenti jarinya menulis selama masih ada nafas terhembus. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Sade menorehkan kisah terakhirnya dengan kotorannya sendiri. Memenuhi semua dinding dan lantai sel dengan erotisme dan sindiran pada manusia diluar penjara yang dianggapnya bergelimang kemunafikan. Ketika karya terakhirnya ditemukan, ia sudah berada diambang ajal. Pastur …….memeluknya dan mencoba mengantarnya dengan kepergian Kristiani yang damai. Di dekatkannya kalung salib kehidung Sade agar ia bisa menciumnya dan melakukan pertaubatan di detik terakhir. Namun dasar Sade, bukannya dicium, salib itu ditelannya. Pastur tak mampu mencegahnya. Salib itu meluncur ketenggorokan Sade. Menyumbat nafas kehidupan dan mengantarnya pada penyerahan ajal. Kematian yang tragis pun sadis.
Sade memang sosok penulis yang kontroversial dimasanya. Diantara kemegahan budaya Aristokrat yang menghamba pada basa basi dan kepalsuan, ia memberontak dengan caranya. Apa yang ia tuliskan memang tentang sisi buruk manusia. Sebuah fiksi dan bukan kuliah moral. Sex adalah medium yang digunakannya untuk memprotes nilai-nilai hipokrit dan kurup yang ada di masyarakat. Dengannya Sade berusaha menunjukkan keburukan agar manusia tahu kebenaran yang hakiki.
Sebagai seorang penulis, Sade telah menunjukkan sebuah kegigihan yang sungguh. Menulis dan menulis meski terpenjarakan. Tak terhenti walau tak ada alat konvensional. Menulis dengan getih. Menggunakan segala yang ada di dirinya. Sampai titik terakhir yang dimilikinya. Zat tubuh yang sudah dianggap sebagai kotoran paling menjijikkan pun masih digunakannya untuk menulis. Bagi Sade, kemerdekaan dalam berpikir tak bisa dipenjarakan atau dihalangi oleh apapun. Pikiran adalah sisi manusia yang membuatnya berbeda dengan binatang. Makhluk yang luhur dan berbudi. Karenanya memenjarakan pikiran sama saja dengan melakukan pembunuhan tersadis. Perilaku yang sama saja dengan binatang. Pikiran harus terus merdeka. Karena dengannya manusia menjadi manusia seutuhnya.
 Posted by diana on Nov 4, '08 3:53 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | MUHIDDIN M DAHLAN |
Buku ini pertamakali kubaca sekitar tahun 2003- 2004. Saat itu masih susah untuk dapet buku ini, soalnya sempat mau dibakar segala setelah muncul kontroversi. Aku dapat dari nitip seorang kawan yang jalan-jalan ke Jogja. Itupun dia dapetnya mesti muter seluruh toko buku dan cuma dapet satu, yang tinggal satu-satunya. Harganya 28.000. Aku tahu buku itu dari seorang teman.
Pertamakali membaca buku ini, aku merasa ditelanjangi. Semua kalimat yang ditulis seperti menterjemahkan apa yang aku alami. PERSIS…!!! Pemberontakannya pada Tuhan, Ketidak percayaannya pada Cinta, Perkawinan, dan Laku-laki. Semua sedang kualami. Aku dalam kondisi depresi dan kecewa yang berat. Hanya saja aku belum menentukan pilihan akan kemana membawa alur perahu kehidupanku, Tokoh di buku ini sudah, Dia memilih menjadi pelacur sebagai bentuk pemberontakan dan sekaligus aktualisasi atas kekecewaanya.
Nidah Kirani, dalam kegamangan hatinya menemukan komunitas islam kanan yang mendekatkannya pada konsep-konsep ketuhanan dengan sandaran hati. Nidahpun tersentuh, terpesona dan jatuh hati pada kesantunan dan kelembutannya. Maka totalitaspun diberikannya. Namun yang diterimanya kemudian, bukan kepuasan melainkan kekecewaan. Kesadarannya memberontak ketika banyak hal yang ditemuinya saling bertentangan. Banyak kemunafikan, manusia-manusia bertopeng di sekitarnya. dia pun mulai mempertanyakan eksistensi Tuhannya.
Dalam kekecewaannya, Nidah berkelana. Dari satu organ ke organ lain. Mengeksplorasi habis-habisan kecerdasannya. Mengungkapkan semua ide dan hasrat ingin tahunya. Bertemu satu laki-laki ke laki-laki lainnya. Dan pertahanan diri yang lemah mendorongnya untuk memenuhi hasrat nafsu manusiawinya, BERCINTA,BERSETUBUH dengan dalih pemberontakan. (Padahal sebeneranya hanya cara lain untuk melampiaskan kejenuhan, kekesalan,kekecewaan, dan kebuntuan hati)
Laki-laki yang ditemuinya, yang menidurinya, adalah figur-figur yang dalam penampakannya menampilkan sisi-sisi idealis, sisi sisi religius,sisi-sisi yang ‘BAIK’. Hal ini yang menjungkir balikkan lagi keyakinan dan kepercayaannya. Yang tampang ustadz, menidurinya, yang seniman menidurinya, yang aktivis menidurnya. Dalam suasana hati yang luluh lantah, kepercayaannya pada laki-laki, perkawinan,dan cinta pun menjadi Nihil.
Dan dengan perasaan nista, putus asa, marah, kecewa, dia berusaha untuk bangkit dan tak mau kalah. Maka dicarinya pembenaran-pembenaran yang dapat menguatkan hatinya. Hingga dia pun dapat berdiri tegak, mengangkat dagu, dan menantang dunia, tuhan, dan realitas. Di perantarai seorang dosen pembimbing skripsinya , Nidah menasbihkan diri untuk melacurkan diri. Sebagai bentuk pemberontakannya pada Tuhan terkasihnya
COMMENT/KOMENTAR
Jika membaca buku ini dalam kondisi kosong, depresi, anda akan hanyut dan terbawa dalam kemurungan berkelanjutan. Jika membaca buku ini dalam kondisi berbunga-bunga atau gembira, anda akan lekas bosan. Jika membaca buku ini ketika sedang serius dan minat untuk berdiskusi, anda akan menemukan pencerahan dan bahan diskusi menarik. Baca saja ketika sedang tenang. Saya membeli buku cetakan terbaru, membacanya lagi, dan efeknya biasa saja.
 Posted by diana on Nov 4, '08 2:37 AM for everyone  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Bayangkan bagaimana berada disebuah negeri dimana membaca buku adalah hal yang terlarang. Satu pasukan khusus disiapkan untuk merazia setiap orang yang menyimpan buku. Fahreinheit 451 nama pasukan itu. "Kami membakar mereka hingga menjadi abu, kemudian kami membakar abunya" itu motonya. Mereka mendapat pendidikan khusus untuk mengetahui dimana saja orang menyembunyikan buku dalam perabot rumahnya. Untuk tahu dimana buku disembunyikan, kau harus tahu bagaimana menyembunyikan buku, begitu pelajaran dasar mereka.
Buku dilarang dibaca karena mereka dianggap menganggu, menjadikan orang anti sosial. Novel, dianggap membuat orang tidak bahagia, karena berisi orang yang tidak pernah ada. Pembaca novel akan terobsesi untuk hidup dalam cara yang tidak akan pernah bisa mereka raih. Buku has nothing to say, begitu katanya.
Masyarakat dijejali dengan tayangan televisi yang palsu. membawa pemirsanya masuk dalam dunia yang sama sekali tidak nyata. Televisi telah menggiring orang untuk percaya bahwa kehidupan sesungguhnya ada di dalam kotak kaca itu. Jika ada yang tidak menonton TV mereka dianggap aneh dan berbeda. Orang lebih menikmati imajinasi yang disodorkan televisi. Buku yang menuliskan tentang kondisi mereka yang sebenarnya, dianggap menyakitkan. Orang tidak suka kebenaran tentang diri mereka ditunjukkan di depan hidung mereka.
Ketika buku terus diburu, mereka yang cinta buku pun lari membentuk komunitas sendiri. Di tempat tersembunyi, mereka mengganti nama masing-masing dengan buku yang sudah mereka hafalkan isinya. yah, buku itu dihafalkan, lalu dibakar. Fahrenheit 451 bisa membakar buku, tapi mereka tak bisa membakar isi kepala kita, begitu kata pemimpin komunitas itu.
Disajikan dengan sederhana, dan diakhiri dengan sangat menyentuh, film ini wajib tonton bagi semua pecinta buku.
I'm Shopie World by Jostein Gaarder He is Wothering heights by emily Bronte She is Plato's republic and you?  Posted by diana on Nov 1, '08 1:13 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Le |
"Sejarah senyap adalah sebuah metode dan usaha menggali kuburan ingatan kolektif dari persemayaman yang dipaksakan; sebuah ikhtiar mencabuti kembali patok-patok nisan tanpa nama dan mendengarkan tutur dari alam kubur kebudayaan Indonesia tentang apa yang sesungguhnya terjadi"
Emboss palu-arit tercetak samar di kertas putih bersih itu menghadirkan kembali rasa getir trauma masa lalu. Judul dengan warna merah menyala di samping logo penerbit bak darah mengalir, mengingatkan pada betapa banyak darah tertumpah yang menjadi tumbal gambar itu.
Desain sampul Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan ini dibuat jelas bukan tanpa alasan. Selain peraturan pelarangan gambar itu masih belum dicabut, Lekra (Lembaga kebudayaan Rakyat) dalam sejarah memang selalu berada dalam bayang-bayang partai berlambang dua benda tajam senjata kaum tani itu, PKI (Partai Komunis Indonesia). Jika Lekra maka PKI, karena PKI maka (pasti) jahat, kejam, sadis, dan layak digorok. Sebuah peng-gebyah uyahan-yang keblinger berpuluh tahun.
Rhoma dan Muhidin adalah dua orang muda yang usianya belum juga genap 30, tapi kepeduliannya pada dokumentasi sejarah bangsa begitu besar. Rhoma adalah periset muda yang telah melahirkan pelbagai karya sejarah seperti Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Seabad Pers Perempuan (1908-2008), Almanak Partai Politik Indonesia, dan Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008). Muhidin adalah penulis muda yang namanya wira-wiri di media nasional dan telah melahirkan berpuluh buku sastra maupun esai. Dialah pemimpin riset Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia yg ditulis 25 penulis muda yang usianya masih di bawah 25 tahun. Mereka berdua ini selama 17 bulan dengan getih menyusuri kembali lembar demi lembar Harian Rakjat dalam lembab almari perpustakaan sunyi di pusat kota Jogjakarta dengan satu semangat: selamatkan aset sejarah sebelum kalah dengan rayap!
Sebanyak 15 ribu artikel budaya Harian Rakjat dalam ejaan lawas dan tulisan kecil-kecil mereka baca dengan tekun, mereka catat bagian-bagian pentingnya (karena tidak boleh menggunting apa lagi menfotokopi karena merusak kertas yang sudah rapuh itu), untuk kemudian menuliskannya kembali dengan beberapa tambahan intepretasi. Mereka menyuguhkan dengan apa adanya peristiwa-peristiwa kebudayaan yang terjadi sepanjang rentang waktu revolusi 1950-1965. Fakta demi fakta diuraikan. Dan hasilnya: Lekra tak hanya mengurusi soal sastra yang selalu diperdebatkan dengan Manikebu, tapi juga film, musik, seni tari, seni pertunjukan (ketoprak, wayang, ludruk, drama, reog), buku, pers, dan kebudayaan secara umum.
Buku ini, meski disebut sebagai “buku putih”, tapi bukanlah sebuah pledoi buta terhadap Lekra. Ia adalah ikhtiar memberi kesempatan bagi mereka untuk berbicara apa sesungguhnya yang telah mereka lakukan semasa kurun 15 tahun yang bergemuruh itu.
Jika boleh disandingkan, buku ini adalah jawaban paling serius dari Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI yang disusun DS Moeljanto (DSM) dan Taufik Ismail (TI) sekira tahun 1995 silam.
TI dalam pengantarnya mengatakan bahwa Prahara Budaya disusun dengan ketulusan hati ingin meluruskan sejarah. Buku itu ditujukan bagi pembaca muda yang tak mengalami peristiwa tersebut. Sementara Muhidin dan Rhoma dalam pengantarnya mengatakan bahwa Lekra Tak Membakar Buku ditujukan untuk mengingat kembali peran Lekra dalam kebudayaan Indonesia pada masa itu dengan apa adanya agar generasi yang tak mengalami peristiwa tersebut memperoleh informasi sejarah yang berimbang.
Jika Prahara Budaya bersampul “merah” itu disusun oleh dua budayawan lanjut usia (baca: tua) yang sangat antipati terhadap Lekra, maka buku ini disusun dua orang muda enerjik dari masa yang sudah sangat jauh berbeda tatkala Lekra berdiri kukuh. Meski ketebalan hanya berbeda kurang dari 60 halaman, tapi perbedaan di antara keduanya terlihat prinsipil.
Dalam Prahara Budaya, tak jelas disebutkan posisi DSM dan TI sebagai apa selain nama mereka tercantum disampul—mungkin lebih tepat jika disebut editor jika bukan kolektor—dari kliping koran, majalah, dan makalah kebudayaan di seputar tahun 60-an. Dokumen-dokumen itu disajikan mentah, sedikit pengantar dan komentar di bawah, yang kadang tak ada kaitannya dengan bahasan di atasnya, dan perubahan judul (tanpa penjelasan mengapa diubah dari aslinya) di sana sini.
Tulisan pengantar yang dibuat TI pun lebih banyak mengungkap ketaksetujuannya atas dasar iman dan pengalaman subjektif; tak terungkap argumen yang sifatnya ilmiah. Sistematika penyusunan dan kronologi peristiwanya juga tak tertata dengan baik. Sehingga buku ini sangat jauh dari ilmiah—lebih tepat disebut buku pembunuhan telak Lekra. Lebih banyak menyajikan konflik, saling tuduh, saling tuding, dan maki bak prahara seperti judulnya. Hasilnya: Lekra adalah organ kebudayaan kaum preman yang tak berotak, tukang keroyok, dan pembuat onar panggung kebudayaan.
Sementara Lekra Tak Membakar Buku, dihadirkan dengan sistematika dan kronologi yang runtut. Mulai dari apa dan bagaimana Lekra, riwayat Harian Rakjat, dan satu demi satu diuraikan bagaimana kerja Lekra dalam sastra, film, senirupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, buku dan penerbitan. Melalui riset mendalam (seperti yang selalu diajarkan seniman organik Lekra), sepak-terjang seniman dan pekerja budaya Lekra menghalau serangan imperialisme budaya dan modal yang bersekutu dengan kekuatan feodalisme lokal diulas ulang. Sambil sesekali memasukkan kutipan-kutipan dari sumber asli disertai catatan rujukannya. Juga dilampirkan keterangan akronim, berikut data-data hasil rapat, susunan pengurus, anggota pimpinan pusat, pengumuman, dan keputusan-keputusan penting Lekra dari rapat-rapatnya.
Dalam “panggung” Lekra Tak membakar Buku ini, terungkap banyak realitas menarik yang banyak tak diketahui publik. Di antaranya adalah instruksi pada semua utusan Kongres I Lekra dari seluruh cabang di Indonesia pada Januari 1959 agar tak hanya membawa bahan untuk diperdebatkan, tetapi juga membawa alat musik, mainan anak-anak, kerajinan tangan, pakaian daerah, cerita-cerita, ornamen-ornamen, penerbitan, dan lagu-lagu daerah masing-masing. Semua itu digelar dalam sebuah bazar besar sehari sebelum hingga kongres berakhir. Pengunjung pameran mencapai 15000/malam; sebuah jumlah yang tak kecil pada masa itu.
Tak sekadar memajangnya, mereka juga mematok program untuk menginventariasi kekayaan-kekayaan cipta budaya Nusantara yang terserak ribuan jumlahnya itu sehingga tak dicaplok bangsa lain seperti kasus lagu Rasa Sayange beberapa waktu lalu.
Seniman-seniman Lekra juga giat menyerukan agar pemerintah memperkeras sikap dengan gambar-gambar dan lukisan cabul dalam bentuk dan kegunaan apa pun seperti ilustrasi, poster, dekor, ornamen, tekstil, dan sebagainya. Kita tak perlu ribut dengan kontroversi RUU pornografi hari ini jika saja mendengarakan apa kata seniman Lekra puluhan tahun silam.
Lekra tak membiarkan anggotanya menempuh jalan kebudayaan dengan ugal-ugalan. Setiap seniman mesti bertanggung jawab pada rakyat yang menjadi basis dayaciptanya. Lekra juga menekankan agar dalam proses mencipta (seperti sastra) selalu melalui riset ilmiah bukan ongkang-ongkang kaki sambil merokok dan menenggak alkohol. Sikap Lekra Jelas di sini bagaimana Lekra berpihak dalam peran budayanya dengan memundaki tiga asas: bekerja baik, belajar baik, dan bermoral baik.
Lekra Tak Membakar Buku adalah sebuah pembelaan atas tuduhan yang sering dilontarkan “lawan” budayanya pada masa itu. Salah satunya adalah bahwa Lekra organ budaya pembakar buku. Buku ini bersikap jelas dan tegas: TIDAK! Lekra percaya bahwa buku mampu mengubah dunia, tapi tidak sembarang buku. Buku yang mampu “mengubah” adalah buku yang isinya digali langsung dari perikehidupan rakyat melalui gerakan turun ke bawah dan bukan mimpi-mimpi kosong yang melulu menjual kepalsuan hidup dari kamar salon. Lekra memang melakukan “teror” atas buku-buku penandatangan Manikebu dan juga pentolan-pentolan Masjumi dan PSI yang terlarang. Tapi Rhoma dan Muhidin ini memberi dalih bahwa tak ada bukti Lekra mengorganisasi pembakaran buku yang mereka tak sukai yang kemudian menjadi judul bagi buku ini.
Terlepas dari beberapa kesalahan ketik di sana sini, buku ini adalah dokumen sejarah yang disusun anak muda generasi sekarang dengan “semangat ilmu pengetahuan” dan keseriusan di atas rata-rata. Muhidin dan Rhoma menasbihkan buku ini sebagai sebuah dokumen sejarah kebudayaan kita yang hilang dan terputus atas nama dendam politik yang terus diwariskan pada generasi muda.
Judul : Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 Penulis : Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan Penerbit : Merakesumba, Jogjakarta Cetakan : I, September 2008 Tebal : 528 halaman (termasuk indeks)
 Posted by diana on Oct 22, '08 6:48 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Professional & Technical | | Author: | Richard Templar |
JUDUL : THE RULES OF LIFE: Aturan Pribadi Untuk Hidup Lebih Baik, Bahagia, Dan Sukses. Penulis : Richard Templar
Penejemah : Sigit Purwanto Cetak : 2008 Tebal : 226 + Xiii Penerbit : Esensi, Erlangga
Bahagiakah anda menjalani hidup ini? Apakah anda merasa bingung menentukan arah hidup? Apakah anda gagal dan sulit memaafkan kesalahan diri sendiri? Apakah anda memendam dendam? Apakah hidup anda membosankan? Apakah anda sedang putus asa? Apakah anda tidak betah dirumah? Apakah anda dijauhi rekan kantor? Apakah anda merasa tak berati?
Jika anda menjawab lebih dari dua rentetan pertanyaan diatas denagn jawaban YA, maka anda perlu untuk segera membaca buku THE RULES OF LIFE karya Richard Templar ini. Seperti halnya sub judul yang tertera, Rules of Life adalah sebuah aturan pribadi untuk hidup lebih baik, bahagia, dan sukses. Berisi 50 ‘aturan-aturan’ untuk diri anda, 16 aturan berpasangan,13 aturan keluarga dan teman, 13 aturan social, dan 8 aturan dunia, Richard ingin membantu anda untuk mengingat kembali tujuan hidup anda dan merumuskannya dengan sederhana,jelas, dan dapat diwujudkan.
Richard menulis, banyak orang yangmenjalani kehidupan dengan sukses, bahagia, penuh kesyukuran, dan dapat mencapai banyak hal. Banyak pula yang merasa tidak bahagia, kehilangan sesuatu dalam dirinya, dan menghabiskan waktu untuk menunggu keajaiban yang memberinya inspirasi. Sebenarnya perubahan hanya masalah kemauan untuk melakukan sedikit perubahan kecil pada perilaku kita. Kebahagaiaan dan kebermaknaan hidup tentu dapat diwujudkan. Memang sulit, tapi sebenarnya begitu sederhana dan dapat dicapai. Tinggal seberapa besar kemauan kita untuk mejadikannya wujud.
Sebelum merumuskan langkah-langkah untuk menjadikan hidup bermakna dan kita bahagia menjalaninya, kita harus mengetahui makna kebahagiaan bagi diri kita masing-masing. Apakah hal-hal yang membuat kita bahagia? Apakah melakukan hal-hal yang buruk membuat kita benar-benar bahagia? Kita harus bisa menemukan kebahagiaan kita sendiri karena hanya kita yang paling tahu diri kita sendiri. Setelah itu kemudian kita diingatkan untuk selalu mendedikasikan hidup kita untuk sesuatu. Terserah anda, apapun itu,asal baik menurut anda, dan membuat anda ingin mencapainya. Dari sini kita jadi jadi tahu kemana arah tujuan hidup ini akan kita bawa. Setelah itu kita akan menentukan standard kehidupan.
Apakah kita cukup bahagia jika yang tercapai hanya30%? Ataukah kita baru bahagia jika semua tujuan itu tergapai. Masing-masing orang mempunyai standar berbeda. Standard ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan setiap langkah yang nanti akan kita rumuskan.
Richard kemudian menggiring kita pada 50 aturan kehidupan yang membantu kita untuk memilah-milah dan menentukan mana yang baik, mana yang buruk. Mana yang akan kita ambil mana yang akan kita buang. Mana yang akan kita ikuti mana yang akan kita tinggalkan. 50 aturan memang banyak, dan kita bukan malaikat yang akan mampu sempurna menjalankan/mematuhi aturan tersebut. Kita bisa memilihnya sesuai dengan kondisi yang kita hadapi. Catat baik-baik dan jadikan pengingat setiap kali kita mengalami hal yang sama. Dari sini kita akan menemukan identitas diri sesuai dengan yang kita kehendaki tanpa mengabaikan kemungkinan lain diluar kita yang mungkin bertentangan. Selalu ada cara untuk menghadapi lawan secara bijaksana, dan Richard memberikan beberapa tipsnya disini.
Bagi anda yang mempunyai masalah dengan pasangan, Richard memberikan 16 aturan mendasar yang mungkin bisa membantu anda memperbaiki hubungan. Richard memberikan paparan sederhana dan menuliskan kunci penting dari dua orang yang berbeda dan tentu saja memiliki aturan kehidupan yang berbeda pula. Seperti banyak ahli katakan, menghormati dan menjaga privasi pasangan adalah kunci penting. Memberi kesempatan pasangan untuk menjadi diri sendiri, bersikap baik, meminta maaf lebih dulu, berusaha lebih keras untuk membahagiakannya, serta mngetahui kapan harus bicara dan kapan harus mendengar adalah beberapa aturan yang mesti kita jadikan evaluasi hubungan kita. Jika masih tidak ketemu, maka review ulang tujuan bersama perlu dilakukan. Dari sini anda akan bias merumuskan langkah-langkah yang perlu anda lakukan bersama pasangan untuk mewujudkan tujuan hidup anda.
Lebih luas lagi, Richard memandu kita untuk melihat lagi kualitas hubungan kita dalam keluarga dan teman-teman kita. Kita diajak membuat garis sendiri bagi target yang telah kita tentukan diawal. Mana aturan yang akan kita ambil dalam menjalin relasi perkawanan dan keluarga, Richard memberikan 13 aturan utama. Anda akan dingatkan bagaimana anda bersikap sebagai orang tua pada anak dan sebagai anak kepada orang tua. Keduanya mempunyai relasi yang berbeda. Kita akan bisa melihat bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh tujuan hidup kita terhadap keluarga dan kawan-kawan kita.
Setelah dapat memilih aturan untuk bergaul dalam keluarga dan teman, lebih luas lagi kita akan dipandu memilih aturan dalam bergaul di lingkungan sosial yg lebih luas lagi. Richard mengingatkan hal-hal yang akan membantu kita mencapai tujuan hidup, dan hal-hal yang justru akan mengganggunya. Kita juga diajarkan untuk memikirkan manfaat tujuan hidup kita itu bagi mereka. Kita mesti memikirkan efek jangka panjang dari tujuan hidup kita itu, juga langkah-langkah yang telah kita rumuskan diawal, sehingga kita akan terdorong untuk selalu berpikir dan bersikap baik dengan moral yang tinggi karena rasa tangung jawab social itu.
Terakhir, Richard mengajak kita membuka mata lebih lebar, melihat akibat yang ditimbulkan bagi dunia dari tujuan hidup, langkah untuk mencapainya,serta pilihan aturan yang telah kita tentukan untuk kita ikuti diatas. Kita mesti mempertimbangkan bagaimana sejarah akan mencatat kita. Sebagai orang baik yang bermanfaat bagi keluarga, teman, lingkungan social, dan bahkan dunia, atau justru sebaliknya, merusak. Kita harus memikirkan kehidupan kita jika kita ingin berhasil dalam hidup ini. Kehidupan ini mesti diberi makna dengan hal-hal yang bermanfaat, sehingga kita diatas bumi ini menjalani kehidupan dengan hikmat, bukan sekedar mayat hidup yang menjalankan takdir kehidupan tanpa upaya. Hidup harus bermakna!
COMMENT : Buku ini sesuai untuk motivasi diri. Disajikan dengan lay out yang sederhana, mudah diingat, dan ringkas. Kita bisa membukanya sewaktu waktu, di sembarang halaman, membaca sebagian dan akan menemukan sebuah inspirasi. Atau sekedar membaca kalimat-kalimat penting yang dicetak khusus dalam kotak insert, untuk mengingatkan kita ketika lemah motivasi dan butuh semangat untuk memulai/bangkit lagi dari keterpurukan kecil. Buku ini bukan sekedar chicken soup, it is a complete breakfast.  Posted by diana on Oct 9, '08 12:08 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Pramoedya Ananta Toer |
Melihat kepiawaiannya mengaduk-aduk emosi pembaca melalui alur cerita yang runtut dan mengugah dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) –yang ditulis dengan gaya tutur roman-, menilik ketekunan dan kegigihannya dalam menyunting dan menyusun pelbagai sumber sejarah hingga menjadi karya Sang Pemula dan Panggil Aku Kartini Saja-yang merupakan karya non fiksi-, maka buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels nampaknya merupakan sebuah karya yang disusun Pramoedya Ananta Toer untuk menggabungkan gaya keduanya tapi justru kehilangan arah penulisan yang jelas.
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, demikian judul yang tertera di sampul depan dengan ilustrasi sebuah latar belakang aktivitas kerja rodi, sebuah peta, dan seorang kumpeni menaiki kuda. Pada ringkasan disampul belakang dan pengantar penerbit di awal tulisan -entah mengapa tak ada pengantar penulis seperti pada karya-karya Pram yang lain- melalui Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini,Pram ingin menuturkan kembali sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan airmata manusia Pribumi itu. Sebuah upaya memberikan sumbangan catatan sejarah pada dunia dengan menjahit-jahit serangkaian catatan perjalanan, beberapa hasil wawancara singkat, buku dan jurnal sejarah, ensiklopedi, serta beberapa surat kabar. Judul yang mengusik ingatan dan pengantar yang satir ini membuat keinginan untuk segera mengetahui fakta-fakta sejarah yang akan dituturkan serasa menyeruak begitu besar.
Diawali dengan sub judul Blora-Rembang, Pram mencoba memberikan sebuah gambaran ringkas mengenai Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels. Jalan yang membentang sejauh 1000km dari Anyer sampai Panarukan ini dibangun pada 1809 oleh Maarschalk en Gouverneur General Mr. Herman Willem Daendels melalui penjatahan pada para bupati yang wilayahnya dilalui jalan ini. Sebenarnya
Daendels tidak sepenuhnya membangun, pada beberapa ruas, dia hanya sekedar melebarkan karena jalan itu sudah ada sejak jaman kerajaan Majapahit. Selama masa pembangunan itu, ribuan nyawa warga pribumi melayang karena kelelahan,kelaparan, dan terserang malaria. Di bagian ini Pram juga menuliskan kenangan masa kecilnya seputar kota Blora-Rembang dan pengetahuan awalnya semasa sekolah mengenai jalan Daendels.
Kemudian dilanjutkan dengan sub bab Lasem, Pram mengulas lebih banyak-masih secara umum- tentang sejarah kebesaran kota Lasem, fakta-fakta mengenai Daendels-mulai dari ikhwal kedatangannya ke Indonesia yang tanpa dokumen, fakta bahwa dia adalah utusan negara Perancis yang sedang menguasai Belanda, sampai caranya memimpin yang kasar dan serampangan-,gagasan awal mengapa Jalan Raya Pos dibangun, berikut tahap pembangunannya. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan sub bab Anyer. Bab ini lebih banyak mengulas mengenai kedatangan awal Daendels ke Jawa. Dilanjutkan kemudian dengan sub bab Cilegon, Banten, serang, dan kota-kota lain yang dilalui jalan Daendels sampai Panarukan. Tidak jelas mengapa pembagian bab dimulai dari Blora dan bukan Anyer seperti mula jalan ini berujung. Karena disebutkan diawal bahwa ini adalah sebuah catatan perjalanan, barangkali perjalanan itu dimulai dari Blora. Tidak jelas kemudian dilanjutkan kemana setelahnya. Hal ini membuat kerancuan pengertian karena pada tiap bab itu tidak semuanya membahas tentang jalan Daendels secara mendalam. Ada yang hanya sekedar catatan sejarah yang berhasil diingat(dihimpun?) penulis, ada juga yang sekedar penjelasan letak geografis secara umum (sekian kilometer ke utara/barat/timur dll). Semestinya, pembahasan mengenai Blora, Rembang, dan Lasem yang panjang lebar itu tidak berada di awal, melainkan di tengah, tepat ketika membahas jalan yang melalui kota itu. Ini lah kelemahan awal buku ini.
Buku setebal 148 halaman dengan ukuran 13 x 20cm ini disusun dengan tipografi dan layout yang tepat. Pemilihan jenis huruf, ukuran huruf, jarak tiap baris, hingga jumlah baris pada tiap halaman nampak diperhitungkan betul sehingga memunculkan irama membaca yang tidak memerlukan kening berkerut atau mata menyipit. Cara bertutur Pram dalam karya ini juga sangat mudah dipahami, dan sebagai sebuah catatan sejarah, buku ini tidak terlalu berat untuk dibaca, bahkan bisa dibaca saat santai atau menjelang tidur. Pram mengajak ingatan pembaca untuk melompat-lompat pada beberapa peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kota-kota yang di lalui jalan Daendels itu. Kemudian sesekali di giring pada pengalaman pribadinya di kota itu. Terkadang Pram juga menyisipkan informasi ’unik’ yang tak ada hubungannya dengan bahasan, seperti bahwa Matahari, mata-mata yang terkenal itu ternyata lahir di Priangan(anda pasti bingung jika tak pernah tau siapa itu Matahari). Jika tidak terlalu serius, maka tak ada masalah dengan buku ini, tapi jika kita sedang serius dan ingin menggali data lebih banyak mengenai jalan Daendels, maka ’lompatan-lompatan’ itu akan sangat mengganggu konsistensi perunutan.
Pada halaman akhir dilampirkan beberapa sumber tulisan, sehingga nampak bahwa karya ini ilmiah. Akan tetapi sumber itu tidak benar-benar dirujuk, hanya sekedar dicantumkan saja. Jadi tidak jelas pada bagian mana sumber itu memberi kontribusi pada tulisan di dalam buku. Tidak ada foot note, apa lagi referensi. Sehingga, jika kita ingin menggali data lebih banyak, kita harus membaca sumber data itu lebih jauh-yang mayoritas berbahasa asing.
Ada juga dilampirkan sebuah peta kuno, tapi tak banyak membantu karena nyaris tak terbaca. Ketika mencoba merunutkan jalur jalan itu pada peta modern, terjadi kebingungan ketika menemukan beberapa persimpangan jalan alternatif. Jadi tidak ada gambaran jelas, apakah jalan itu masih ada menginggat perubahan luas wilayah selama kurang lebih 2 abad itu cukup signifikan. Kota-kota seperti Anyer, Lasem,Surabaya adalah kota yang paling banyak berubah. Karena bencana, karena kondisi alam, atau juga karena pembangunan. Di Surabaya misalnya, tidak jelas yang mana Jalan Daendels yang menghubungkan Tambak langon- Gresik- Surabaya dan Sidoarjo itu, karena memang saat ini ada beberapa jalur yang menghubungkan. Ketika disebut Wonokromo, semakin bingung dibuatnya, karena Wonokromo kini telah menjadi bagian dari Surabaya dan Tambaklangun masuk wilayah Gresik. Tidak ada informasi akurat mengenai hal ini. Demikian pula dengan jalur Tuban-Gresik. Ada dua jalur yang bisa ditempuh, dan jika merunut info dari Pram, maka jalurnya bukanlah jalan yang sering dilalui jalur trayek kendaraan umum, melainkan jalur alternatif yang melalui tanjung kodok (itu jika persepsi dan pemahaman saya benar). Ketidakjelasan ini dikarenakan, semakin kebelakang, bahasan dari tiap bab semakin seadanya,informasi mengenai jalan Daendels juga minim, lebih banyak sejarah secara umum tentang kota itu, seakan hanya apa yang terlintas di ingatan saja yang diungkapkan. Kisah genosida yang sejak awal didengungkan, tidak banyak diungkap pada bagian-bagian akhir. Hanya secuil informasi diawal-awal penulisan bahwa pada beberapa ruas, terjadi kematian pekerja besar-besaran karena kelelahan,kelaparan, dan juga karena serangan Malaria. Bupati-bupati yang tidak dapat memenuhi target pembangunan, kepalanya dipenggal dan digantung di atas pohon sepanjang jalan. Juga kekejaman Daendels dalam memaksa rakyat pribumi menyerahkan tanahnya untuk dijadikan jalan tanpa kompensasi dan kewajiban mereka untuk turut membangun, melebarkan, meninggikan jalan di wilayahnya.
Sebagai referensi sejarah, yang di dedikasikan pada dunia, kelemahan detil informasi ini bisa vital karena menyangkut informasi yang akan disampaikan pada generasi mendatang.
Dengan sebuah kalimat “saya tidak pernah berjalan diatas bumi Panarukan” Pram mengakhiri penuturannya. Sebuah akhiran yang semakin membuat rancu ketika karya ini sering disebut-dan dinyatakan sendiri oleh penyusun- sebagai catatan perjalanan. Jika catatan perjalanan, maka perjalanan dari mana ke mana. Dari Blora ke Rembang atau Lasem? Jakarta- Bogor? Anyer-Bandung? Jakarta-Surabaya? Tidak jelas. Jika yang dimaksudkan adalah perjalanan hidup Pram, maka buku ini tengah kesulitan mencari genrenya.
Terlepas dari segala kelemahan tersebut, karya Pram ini-jika benar ini adalah karya Pram dan bukan sekedar serpihan catatan Pram yang dipadukan dengan beberapa sumber- telah memberikan masukan sejarah yang berharga bagi negeri ini. Karena memang tak banyak yang peduli pada sejarah yang tlah terlupakan. Dan Pram adalah satu diantara yang tidak banyak itu. Apresiasi tetap kita berikan karena harus diakui,ini mungkin satu-satunya sumber yang membahas mengenai jalan ini dalam bahasa Indonesia. Lagipula Jalan Raya Pos,Jalan Daendels memang bukan catatan sejarah yang serius seperti Sang Pemula, ini hanya sebuah catatan dari sekumpulan data sejarah dan romantisme perjalanan. Informasinya juga sudah cukup layak untuk dijadikan pengingat tentang kebesaran dan sejarah kota-kota yang dilaluinya. Hendaknya buku ini menjadi pijakan awal bagi generasi selanjutnya untuk menyusun literasi yang lebih komprehensif, terstruktur baik, dan ilmiah mengenai Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Sebuah jalan yang telah membawa pengaruh perubahan besar di sektor ekonomi, budaya, dan sosial bangsa ini hingga sekarang. Sehingga nanti akan ada sebuah literasi sejarah yang bisa lebih layak untuk dijadikan referensi pelajaran sejarah formal yang selama ini hanya berpaku pada satu sumber. Maka anak cucu kita akan mendapat informasi yang tepat mengenai sejarah bangsanya. Dan tidak sekali-sekali melupakannya.  Posted by diana on Jul 26, '08 7:56 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Putu Wijaya |
Lanjutan dari NORA. Ceritanya makin seru. Mala akhirnya mau dipenjara demi Nora. Setelah bebas dia menemukan kenyataan yang menyakitkan tentang sahabat dan kawan-kawan lamanya. Juga tentang Nora-nya tercinta. Kantornya berubah jadi gedung elit,kawan-kawannya hidup mewah, Dan Nora...(baca sendiri deh...ga k seru kan...) Di bagian ini Putu menampilkan banyak sisi tentang sexual, diantaranya fenomena gay yang lekat dengan sadisme ketika sakit hati, lesbian yang ada di kalangan ibu-ibu elit, dan bisnis pelacuran di Jakarta. Disini juga digambarkandengan jelas bagaimana media berperan besar dalam membentu opini public. Kekuasaan yang sesungguhnya adalah di tangan MEDIA bukan Penguasa Negeri. Buku ini wajib baca bagi jurnalis.  Posted by diana on Jul 26, '08 7:47 AM for everyone  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Putu Wijaya |
Ceritanya sih agak2 surealis, khayal tapi menyindir realitas banget. Begitu baca halaman pertamanya, langsung penasaran dan pengen segera tahu kelanjutan cerita setiap tokohnya. Nora yang lugu,lincah,polos. Mala yang idealis, sok merasa intelek, introvert. Adam sahabat yang baik dan gay. Midori yang cantik, genit,blak-blakan dan cerdas. Gaya bahasanya bertutur sekali, khas Putu. Topiknya juga GUE BANGET. Politik,jurnalisme,cinta. Dibuku ini tiga hal itu bisa ditautkan dengan enak. Tapi kalau tak suka sastra yang agak mikir, Gue gak sarankan baca buku ini. Bisa dua minggu baru kelar. Gue selesai dalam semalam :-) karena cerita konspirasinya bikin gue panasaran n pengen baca buku keduanya. 
| |